|
Baru saja Allah menunjukkan kekuasaan-Nya dengan Gempa. Kita tersadar betapa mudahnya Allah menggerakkan segala sesuatu, Betapa mudahnya Dia membalikkan Bumi. Hanya dengan sedikit saja kekuasaannya semuanya terjadi seketika, hanya dalam hitungan detik semuanya kita lihat akibatnya. Pernahkah kita menyadari bahwa semua ini ada hikmahnya, pernahkah kita merenung semua ini ajaran apa yang dapat kita petik. Mungkin mata kita hanya melihat kerusakan dan kehancuran, apakah yang ada di balik semua ini?. Pernahkah kita tahu bahwa di ujung sana setiap nyawa yang pergi diterima Nya dengan tangan terbuka. Kembali kepadanya dengan wajah yang berseri-seri, karerna mereka mati syahid. Begitu ajaran guru saya “orang yang mati di timpa gempa adalah mati syahid” kata beliau dalam suatu pengajian, dan surgalah untuknya.
Mungkin kita menangis,sedih dan risau, tapi apakah yang kita tangisi itu juga risau, siapa tahu barangkali mereka tersenyum di haribaan Nya. Dari lubuk hati yang dalam saya panjatkan do’ a, semoga saudara-saudara yang ditimpa musibah mendapat tempat yang layak, ditepatkan pada tempat yang semulia-mulianya dan di tempat yang bahagia disisi Nya. Perkenanlah Ya Allah. Keyakinan kita menghantarkan kita bahwa Allah itu Maha Pengasih dan Penyayang. Dengan Rahman dan Rahimnya di peluknya setiap hamba yang kembali keharibaan Nya, lebih-lebih yang kembali itu adalah mereka yang syahid. Memang kebanyakan, biasanya orang bersyukur bila dapat nikmat dilimpahi berkat dan menuau rahmat. Bermacam acara diadakan dalam menwujudkan rasa syukur ini. Tapi hari ini mampukah kita bersyukur disaat susah, disaat musibah menimpa? Bukankah kita selalu dingatkan oleh guru-guru kita untuk senantiasa menikmati hari dengan penuh rasa syukur. Setiap hari sebetulnya adalah istimewa. Sayang kita sering tak menyadarinya karena ''mata'' kita tertutup. Kita sadari memang ... bersyukur ... bersyukur dan bersyukur adalah kunci kita menikmati semua ini, tidak hanya di saat senang, tetapi juga di saat susah. Karena setiap musibah selalu mengandung 'rahmat' yang terselubung. Musibah adalah alat yang sangat ampuh untuk membuka mata kita pada banyaknya kenikmatan yang telah kita lupakan. Jadi dalam menerima musibah kita perlu senantiasa bersyukur bahwa hal itu tidaklah terlalu buruk. kita sering mendengar istilah ''Masih untung''. cara pandang yang sangat spiritual ini bukanlah sekadar untuk menghibur dan menyenang-nyenangkan diri. Sikap ini didasari oleh keyakinan mendalam bahwa Tuhan senantiasa melindungi kita. Bahwa rahmat selalu ada di sekitar kita betapa pun kecilnya. Ini akan mengubah penolakan menjadi penerimaan, kekacauan menjadi keteraturan, dan kekeruhan menjadi kejernihan. Lebih dari itu hidup kita akan senantiasa diliputi perasaan penuh. Apapun yang sudah kita miliki menjadi cukup, bahkan berlebih. kita seringkali tak dapat menemukan hal-hal yang patut disyukuri karena kita sering merasa bahwa sesuatu itu sudah semestinya terjadi. Padahal, segala sesuatu tidak terjadi begitu saja. Semuanya karena rahmat Tuhan. Mungkin Anda tidak merasa mendapatkan hal istimewa pada suatu hari. Tapi, bukankah hari itu kita dan seluruh anggota keluarga sampai di rumah dengan selamat?. Bukankah kita masih bisa menikmati makanan yang lezat? Bukankah jantung kita masih terus berdetak, nafas kita pun tak pernah berhenti? . Bukankah kita masih dapat melihat, mendengar, berjalan, dan bekerja?. ''Semua yang terjadi tak pernah kita sadari benar. Selamat tinggal, rumahku. suami dan putri kesayanganku....... Ibu dan ayah....... Selamat tinggal detak jam dinding dan bunga-bunga yang indah di pekarangan. Dan makanan dan kopi. Dan baju-baju yang baru diseterika dan air mandi hangat ....... dan saat-saat tidur dan terjaga. Oh hidup, kau terlalu mengagumkan hingga orang tak menyadari betapa mengagumkannya engkau.'' Saya teringat kata bijak dari guru saya . Bahwa kekecewaan dan penderitaan dapat mengubah 'orang biasa" menjadi , "orang luar biasa",, Jadi jika anda sedang menderita hari ini , apa pun sebabnya... , bersiap-siaplah menjadi "orang luar biasa" ,,, Dari lubuk hati yg dalam saya panjatkan do’a ”Ya Allah Engkau pernah berkata "Falaqtahammal Aqabah; Wama Adraa Kamal Aqabah?; Faqqu Raqabah" Tapi mereka tiada mau menempuh jalan mendaki, Tahukah kamu apa itu jalan mendaki. Kamu memerdekakan orang dari belenggu kemiskinan, memerdekakan orang dari belenggu penderitaan, memerdekakan orang dari belenggu kemelaratan dan kesakitan, memerdekakan orang dari belenggu ke bodohan.Ya Allah berilah kami kekuatan untuk dapat memerdekakan dan meringankan beban-beban orang yang terlantar miskin dan malang itu”. Ya Allah, Waktu mengalir terus, ia tahu banyak hal yang hilang, dan banyak yang di peroleh. Orang yang rugi ialah orang-orang yang waktunya berlalu tapi imannya tidak bertambah, waktunya berlalu tapi amalnya tidak bertambah, waktunya berlalu tapi kebenarannya tidak bertambah, waktunya berlalu tapi kesabarannya tidak bertambah. Ya Allah bimbinglah kami dalam setiap detik waktu yang kami lalui menjadi waktu-waktu yang bermanfaat.Kami sadari Ya Allah bahwa Tak semua orang bisa jadi pahlawan, juga tak semua pahlawan di maksudkan untuk jadi pahlawan terus menerus, tapi jadikanlah kami pahlawan pendidikan, pahlawana kesehatan dan pahlawan kemanusiaan. Jadikanlah sebagai pengibar panji-panji kemanusiaan di barisan terdepan. Untuk itu ingin saya petikkan sebuah Firman Suci Nya dalam Al Qur'an : 'Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu', (QS. 2:45) Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada. (QS. 22:46)
.......Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar. (QS. 3:146) Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. (QS. 3:103) Padang 15 Maret 2007
Trackback(0)
|