Home
Daftar Anggota
Galleri
Resep
Restoran Minang
Games
Download
Kamus Minang
Chat
Bursa Iklan
Radio Online
Menu Situs
Berita
Artikel
Prosa
Tokoh Minang
Adat Budaya
Agama
Kolom Khusus
Pariwisata
Berita Keluarga
Giring2 Perak
Berita Yayasan
Pituah

Kaluak paku kacang balimbiang
Buah simantuang penggang-penggangkan
Anak dipangku kamanakan dibimbiang
Urang kampuang di petenggangkan
Milis Minang
Rantaunet
Surau
Aktivis Minang
Media Padang
PosMetro Padang
Advertisement
Tafsir Pantun Minang (8) : Pantun Agama PDF Print E-mail
Written by Dr. Ir. H. Darwis S.N. Sutan Sati   
Tuesday, 03 April 2007
Article Index
Tafsir Pantun Minang (8) : Pantun Agama
Page 2
Page 3
Page 4
Page 5
Page 6


Sajak adaik basandi syarak,
Duo aturan nan tajalin.
Dalam lauik tak barombak,
Tagak dipadang tak barangin.


Artinya : 

Sejak adat bersandi syarak,
Dua aturan yang terjalin.
Dalam laut tidak berombak,
Berdiri dipadang tidak berangin.

Tafsir sampiran :
Sajak adaik basandi syarak, duo aturan yang terjalin. Agama Islam masuk ke Minangkabau, pada waktu masyarakat Minangkabau itu sudah ada lengkap dengan adat istiadatnya. Ternyata agama Islam itu dapat diterima oleh masyarakat, karena banyak persamaannya dengan adat, keduanya malah saling bersimbiose, saling jalin menjalin. Dalam sejarah pengembangan agama Islam didunia ini, memang banyak mengadopsi kebiasaan setempat, sepanjang itu tidak bertentangan dengan aturan pokok.

Tafsir isi pantun :
Dalam lauik tak barombak, tagak di padang tak berangin. Ini adalah merupakan satu kejadian atau gejala yang sangat istimewa yang dinyatakan dengan = laut tak berombak dan padang tak berangin=.  Hal yang biasa terjadi adalah bahwa laut itu berombak, mulai dari ombak-ombak besar sampai pada riak kecil-kecil. Sedangkan kalau kita berdiri ditengah padang yang luas, selalu kita akan merasakan adanya gerakan udara, mulai dari angin yang kencang sampai angin yang bertiup lemah.
Banyak hal yang dituju oleh pantun ini, yang menggambarkan sesuatu yang tidak biasa. Misalnya seorang yang dimarahi, atau diberi nasehat, dia tenang saja, menentang tidak mengiyakan juga tidak, tak ada pengaruhnya sama sekali. Atau ada satu ketentuan tertentu dari penguasa, yang normalnya akan membuat masyarakat menjadi tidak senang,atau yang seharusnya masyarakat menerima dengan gembira, akan tetapi nyatanya tak ada kejadian apa-apa, tak ada terjadi kegelisahan dan gejolak.
Apabila hal-hal seperti itu terjadi maka harus dipertanyakan apa sebabnya, atau itu merupakan satu tanda-tanda peringatan akan terjadi sesuatu, yang harus diwaspadai. Jadi jangan dibiarkan saja hal itu, harus diselidiki, apa yang terjadi.

Tasindorong jajak manurun,
Tatukiek jajak mandaki.
Adaik jo syarak kok tasusun,
Bumi sanang padi manjadi.


Artinya :

Terdorong jejak menurun,
Tertukik jejak mendaki.
Adat dengan syarak kalau tersusun,
Bumi senang padi menjadi.
      
Tafsir sampiran :
Tasindorong jajak manurun, tatukiek jajak mandaki Satu gambaran dialam, yang biasa ada dipedesaan, dimana ada jalan setapak yang pada umumnya turun  naik, sesuai dengan sifat daerah pegunungan Orang pedesaan biasanya berjalan dengan kaki telanjang. Apabila jalan yang ditempuh itu terdiri dari tanah liat dan baru saja disiram oleh hujan gerimis, maka dari jejak kaki orang dijalan itu dapat diketahui, apakah dia jalan menurun atau mendaki. Kalau jejak kakinya terdorong kedepan sehingga lebih panjang dari telapak kakinya, maka berarti dia menurun. Kalau jejak kakinya tertukik, dimana yang lebih jelas adalah gambaran telapak kaki bagian depan, sementara bagian tumitnya tidak terlalu jelas, maka berarti dia sedang mendaki.

Tafsir isi pantun :
Adaik jo syarak kok tasusun, bumi sanang padi manjadi. Walaupun tidak banyak perbedaan antara aturan adat dengan agama, namun proses masuknya agama Islam ke Minangkabau tetap saja tidak mudah. Selalu saja terjadi pertentangan dan bentrokan yang terkenal dizaman dulu dengan Kaum Paderi atau para ulama disatu sisi dengan Kaum Adat dengan para ninik mamak disisi lainnya. Penyatuan antara kedua sisi ini memerlukan waktu yang cukup lama juga, dan ada kalanya terjadi bentrokan fisik. Apalagi pertentangan antara kedua pihak ini dimanfaatkan dengan baik oleh pemerentah penjajahan Belanda, dengan politik adu dombanya. Dalam hal ini biasanya pemerentah Belanda lebih berada pada pihak kaum adat.
Pada waktu itu masyarakat sangat mendambakan kerukunan antara adat dan agama ini, seperti dinyatakan dalam pantun tersebut: adat dan syarak kalau tersusun, bumi sanang padi menjadi. Kemudian memang antara adat dan agama itui terjalin baik, tak ada lagi pertentangan, sehingga masyarakat menjadi tenang, mereka aman leluasa berusaha tani, sehingga padi sawahnya menjadi berhasil baik. Malah setelah dipelajari dengan baik, ternyata adat itu adalah bersendi pada syarak, walaupun memang ada diantara adat kebiasaan yang harus ditinggalkan karena tidak sesuai dengan agama.



Last Updated ( Tuesday, 03 April 2007 )
 
< Prev   Next >
Yayasan Palanta Cimbuak
Yayasan Palanta Cimbuak
Dari Awak, Oleh Awak, Untuak Kampuang
Nio berpartisipasi? Silakan klik disiko
Cimbuak Features

Cimbuak Chat


Cimbuak Chat


Free Email


Free Email
Donasi Terakhir

Donasi untuk Cimbuak
Dari Jumlah
 Harmailis Rp.   200.007,--
 Ajo Duta / Mak Uncu Rp.   1.000.000,--
Inyiak Jangkuang Rp.   56.789,--
Dave, Melbourne Rp. 300.000,--
Balance Sementara
Rp. 1.116.796,--
Situs Terbaik
Online Sekarang
We have 9 guests and 7 members online
Generated in 2.12783 Seconds