|
Tafsir Pantun Minang (8) : Pantun Agama |
|
|
|
|
Written by Dr. Ir. H. Darwis S.N. Sutan Sati
|
|
Tuesday, 03 April 2007 |
|
Page 5 of 6
Baranang ka hulu aie, Jan lupo jo rantieng lapuak. Alah sanang hiduik didunie Kana juo kamati isuak. Artinya :
Berenang kehulu air, Jangan lupa dengan ranting yang lapuk. Sudah senang hidup didunia. Ingat juga akan mati besok.
Tafsir sampiran : Baranang ka hulu aie, jan lupo jo rantieng lapuak. Kebiasaan orang yang hidup dipedesaan adalah mandi disungai. Apabila sungainya cukup besar, maka orang akan mandi ambil berenang. Kalau berenang arah kehilir, itu akan lebih mudah, karena tinggal mengikuti aliran sungai. Yang masalah adalah kalau berenang arah kehulu air, karena menentang arus maka kita harus mengeluarkan tenaga yang cukup besar. Maka orang yang berenang kebagian hulu, sewaktu-waktu akan mencari tempat bergantung dipinggir sungai, apa saja yang dapat dipegang. Pantun ini memperingatkan agar jangan terpegang diranting kayu yang sudah lapuk, karena dia mudah patah, maka kita akan mudah kembali dihanyutkan aliran air sungai.
Tafsir isi pantun : Alah sanang hiduik didunie, jan lupo kamati besok. Merupakan peringatan atau petunjuk kepada orang kaya yang sudah menikmati hidup senang didunia ini, jangan sampai terlena, seolah-olah akan hidup selamanya. Hidup didunia ini hanya singkat saja dan tujuan utamanya adalah untuk mengumpulkan bekal sebanyak-banyaknya untuk hidup diakhirat kelak yang kekal dan abadi. Bahwa kita akan mati, itu sudah pasti tinggal waktunya kapan, kita tidak tahu, Allah SWT yang mengetahuinya. Bisa mati besok, atau luasa atau sekian puluh tahun lagi. Maka pantun ini mengingatkan hal itu khususnya kepada orang kaya yang sedang hidup nikmat, bahwa dia bisa saja mati besok jalau Tuhan menghendaki. Salah satu ajaran agama Islam mengatakan : “carilah nikmat dunia seolah-olah kamu akan hidup selamanya, dan carilah nikimat akhirat seolah-olah kamu akan mati besok”. Yang berarti kiita harus mengusahakan keduanya, jangan hanya satu-satu saja. Dan ingatlah bahwa kenikmatan akhirat itu jauh lebih besar dibanding dengan kenikmatan ahirat. Bagaimanapun besarnya nikamt yang dirasakan didunia ini, tak ada artinya disbanding dengan kenikmatan akhirat.
|
|
Last Updated ( Tuesday, 03 April 2007 )
|