Home
Daftar Anggota
Galleri
Resep
Restoran Minang
Games
Download
Kamus Minang
Chat
Bursa Iklan
Radio Online
Weblink
SPTT Cimbuak
Cimbuak Toolbar
Menu Situs
Berita
Artikel
Prosa
Tokoh Minang
Adat Budaya
Agama
Kolom Khusus
Pariwisata
Berita Keluarga
Giring2 Perak
Berita Yayasan
Pituah

Malompek samo patah
Manyaruduak samo bungkuak
Tatungkuik samo makan tanah
Tatalantang samo minum aie
Milis Minang
Rantaunet
Surau
Aktivis Minang
Media Padang
PosMetro Padang
Advertisement
Tafsir Pantun Minang (8) : Pantun Agama PDF Print E-mail
Written by Dr. Ir. H. Darwis S.N. Sutan Sati   
Tuesday, 03 April 2007
Article Index
Tafsir Pantun Minang (8) : Pantun Agama
Page 2
Page 3
Page 4
Page 5
Page 6



Syarak banamo lazim,
Adaik nan banamo kawi.
Habih tahun baganti musim,
Buatan nan usah diubahi.

 
Artinya :

Syarak yang bernama lazim,
Adat yang bernama kawi.
Habis tahun berganti musim,
Aturan jangan dirobahi.

Tafsir sampiran :
Syarak banamo lazim, adaik banamo kawi. Ini adalah merupakan ungkapan dalam kata-kata adat, yang artinya sama dengan adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah.
Tidak ada pertentangan antara adat dan syarak, malah antara keduanya saling mendukung dan satu maksud dan tujuan.

Tafsir isi pantun :
Habih tahun baganti musim,buatan nan usah diubahi. Maksudnya, waktu berjalan terus, zaman berobah, dari musim berganti musim, selalu saja dijumpai hal-hal baru yang sebelumnya tidak ada. Orang menamakan zaman sekarang ini adalah zaman moderen, banyak adat kebiasaan manusia yang telah mengalami modernisasi, yang katanya mengikuti kemajuan zaman. Maka pantun ini memperingatkan manusia semuanya agar berhati-hati, bahwa dalam mengikuti perobahan zaman tersebut ada hal-hal tertentu yang bersifat dasar dan prinsipil yang tidak boleh dirobah.
    Baik adat, maupun agama itu sebenarnya tidaklah kaku, bukanlah merupakan aturan-aturan stempel yang tumpul. Akan tetapi dapat mengakomodasikan setiap perobahan zaman. Namun haru ada batas-batasnya, tidak bebas lepas begitu saja. Kalau tidak demikian maka akan terjadi hal-hal yang merusak yang akan menggerogoki  kebudayaan manusia mundur kembali seperti hewan. Sebagai contoh misalnya: berpakaian minim sehingga kelihatan aurat, atau makan sambil berdiri, kita namakan satu kemajuan atu modernisasi, pada hal yang terjadi sebenarnya adalah kemunduran, yaitu kembali memasyarakatkan kebudayaan hewan. Sebab hanya hewan yang tak pakai baju dan yang makan sambil berdiri.



Last Updated ( Tuesday, 03 April 2007 )
 
< Prev   Next >


Advertisement

Yayasan Palanta Cimbuak
Yayasan Palanta Cimbuak
Dari Awak, Oleh Awak, Untuak Kampuang
Nio berpartisipasi? Silakan klik disiko
Cimbuak Features

Cimbuak Chat


Cimbuak Chat


Free Email


Free Email
Yayasan Cimbuak
Situs Terbaik
Online Sekarang
We have 1 guest and 3 members online
Generated in 2.28004 Seconds