Tafsir Pantun Minang (8) : Pantun Agama PDF Print E-mail
Written by Dr. Ir. H. Darwis S.N. Sutan Sati   
Tuesday, 03 April 2007
Article Index
Tafsir Pantun Minang (8) : Pantun Agama
Page 2
Page 3
Page 4
Page 5
Page 6


Indak dapek sarimpang padi,
Batuang dibalah kaparaku.
Indak dapek bak kandak hati,
Kandak Allah nan balaku.


Artinya :

Tidak dapat serimpang padi,
Betung dibelah untuk paraku.
Tidak dapat sekehendak hati,
Kehendak Allah yang berlaku.

Tafsir sampiran :

Indak dapek sarimpang padi, batuang dibalah kaparaku. Tanaman padi yang biasa ditanam disawah, pada waktu tanam hanyalah beberapa batang saja dalam serumpun. Tak lama setelah ditanam, mereka biasanya beranak banyak sehingga sampai 10 – 30 batang per-rumpun. Anakan padi tersebut sebenarnya adalah tunas dari batang padi yang sudah ada, atau disebut disini dengan rimpang. Batuang adalah sejenis bambu yang keras dan tebal, sedangkan  paraku yang sering juga disebut dengan pagu adalah semacam balai-balai untuk meletakkan kayu api dibagian atas dapur.

Tafsir isi pantun :
Indak dapek bak kandak hati, kandak Allah nan balaku. Maksud dari pantun ini memberitahukan tentang bagaimana besarnya kekuasaan Allah SWT. Seseorang tidak dapat berbuat sekehendak hatinya, karena kehendak Allah lah yang akan berlaku. Manusia terbatas hanya berniat, merencanakan, atau berusaha semaksimal mungkin , namun bagaimana hasilnya Allah SWT yang akan menentukan. Oleh sebab itu janganlah kecewa kalau tidak berhasil mencapai tujuan tertentu.
Pantun ini secara tidak langsung juga menyuruh kita agar selalu mengingat Allah SWT, apapun yang dikerjakan ingat Allah SWT, sesuai dengan janji yang kita ucapkan pada setiap shalat: “……… innashalati wannusuki wamahyaya, wamamati, lillahi Rabbil Alamin”. Jadi apapun yang kita kerjakan adalah dengan nama Allah, demi Allah dan kita sadari bahwa semuanya selalu selalu dilihat oleh Allah, dan apapun yang akan terjadi adalah atas kehendak Allah SWT.



 



Last Updated ( Tuesday, 03 April 2007 )
 
< Prev   Next >




Generated in 2.58596 Seconds