|
Hilang si nyaru tampak pagai Hilang di lamun-lamun ombak Hilang si bungsu dek parangai Hilang di mato rang nan banyak Demikanlah bait-bait dalam dendang pauh yang dapat saya simak, petuah dan pepatah dalam dendang Pauh ini enak di dengar dan perlu di simak dan dalam maknanya. Yang saya ingat waktu mendengar dendangitu hanyalah pulau Sinyaru yang jauh di tengah lautan Indonesia yang dapat saya saksikan waktu bertualang ke kepulaun Mentawai, ke Pagai utara dan Pagai Selatan dengan ibu kota si kakap dan sipora, kemudaian terus ke si berut Selatan dan Utara dengan ibu kotanya Muara siberut dan Muara Sikabaluan, kemudian dengansampan kecil kami masuki sampai ke pedalaman pulau yang hanya dapat di tempuh melalui jalan-jalan sungai, berhari-hari kami diatas sampan menuju desa-desa terpencil dan tertinggal.
Mendengar pulau si nyaru, saya teringat akan kepulauan disekitarnya yang pernah saya jalani dan tempat kami berkemah serta bermalam. Mulai dari pulau Nyamuk, pulau Pagang, Pulau si kuai, pulau Bintangur dan pulau persumpahan. Semua pulau-pulau itu pernah kami singgahi dengan pengalaman-pemngalaman yang aduhai sangat indah untuk di kenang. Bermain, berlari, berenang, menyelaman, bersampan, memancing, memanjat kelapa muda. Malamnya mencolok, menangkap udang bingkaro dan memburu ikan. 3 hari bermalam dan mengelilingi pulau di tahun 68. Oh luar biasa senang dan nikmatnya. Dan betapa sedihnya ketika harus meninggalkan dan berpisah dengan pulau dan teman-teman. Entah pabila dan entah kapan lagi bisa menikmati saat-saat seperti dulu. Rasanya tak akan mugkin lagi, apalagi sekarang, dimana hampir setiap hari menolong kelahiran bayi, atau melakukan operasi pada ibu-ibu yang menderita tumor dalam kandungannya. Rasanya tak mungkin lagi bergembira dan merasakan nimatnya bermalam di pulau. Sekembali dari pulau badan terasa sangat segar dan semangat kerjapun me ningkat. Sekarang barulah saya sadari betapa laut itu telah memberi kita nikmat yang sangat banyak. Rasakanlah, bukankah oksigen yang kita hirup ini, 70 % dihasilkan oleh laut, makanya udara yang paling kaya dengan oksigen itu adalah di daerah laut. Beruntung sekali saya bertempat tinggal di kota Padang di pinggir laut. Dan lembab nisbi dari udara ini yang terbaik di temukan di laut? Kita hirup udara dengan lembab nisbi yang tinggi, kita hirup udara dengan konsentrasi Oksigen yang tinggi, dan semua itu akan menambah dan menyegarkan kesehatan kita. DAn ketika kecil berasal dari Pariaman, dan kalau di Pariaman selalu bermain di pinggir lautan kalau lebaran kami pergi ke Pulau Angso duo, pulau ujung, pulau tangah dan pulau kasiak. Kalau sudah sampai di pulau rasan ya enggan hati ini untuk pulang. Di pulau-pulau itulah saya menikmati kebahagian masa kecil, mencari kucing-kucing, umang-umang, bintang laut dan berbagai permainan lainnya. Laut telah memuaskan dan membahagiakan hidup saya waktu kecil. Sekarang saya sadari lagi, ternyata apapun yang ada di darat dapat pula ditemui di laut, sebutlah protein, karbohidrat, lemak, mineral, minyak, lihatlah betapa banyaknya pemboran minyak lepas pantai. Setiap apa yang ada di laut adalah barang dan makhluk-makhluk berharga, sampai-sampai Teripang yang saya jijik melihatnya waktu kecil, ternyata memiliki nilai protein dan gizi yang sangat tinggi, sehingga harganya di luar negri, Singapura dan Jepang sangat-sangat mahal, tapi di pulau di kampung saya di buang-buang begitu saja. Sedangkan sampah laut atau rumputnya. Rumput lautpun mahal dan sangat berguna, pokoknya semua yang hidup dan tumbuh di laut mempunyai potensi ekonomi dan kesehatan yang sangat tinggi.
Tidak salah lagi orang yang menguasai laut adalah bangsa yang besar dan kaya. Bukankah Jayanya Inggeris karena mereka bisa menaklukkan dan memanfaatkan laut?, sehingga dia bisa menguasai seluruh dunia dengan segenap isinya?.. Bukankah Bangsa kita pernah besar dan terkenal di zaman Sriwijaya dan Majapahit, karena nenek moyang kita gemar menempuh samudra, sampai-sampai kekuasaan nenek moyang kita dahulu sampai ke Madagaskar, yaitu Amerika Selatan di dekat Peru. Berarti nenek moyang kita telah mengharungi Samudra Pasifik. Itu makanya adat istiadat dan bahasa di Madagaskar banyak miripnya dengan bangsa Indonesia. Demikian terkenal dan hebatnya nenek moyuang kita di zaman dahulu dapat kita simak dari alunan sebuah lagu : Nenek moyangku orang pelaut Gemar menmpuh luas Samudra Menemuh ombak Tiada takut Menghadang badai sudah biasa.
Nenek moyang kita terkenal dan piawai adalah karena mereka mengerti dengan ilmu perlautan dan mengerti seluk beluk laut.
Sekarang kita baru terbatas menikmati laut sebagai tempat yang indah dengan pemandangan yang aduhai mulai dari pinggirnya sampai ke tengah dan ke dalam lautan dengan pulau dan tempat menyelam. Sehingga tempat beristirahat yang paling mahal itu justru di Pulau. Lihat saja setiap minggu banyak orang di Jakarta bersantai di Pulau Putri Duyung di kepulauan seribu, walaupun biayanya sangat mahal orang tak peduli. Dan setelah saya coba bandingkan ternyata gugusan pulau di Samudra Indonesia jauh lebih cantik dan indah termasuk karang-karang dan ikan hiasnya dan lebih alami.
Kalau untuk rekreasi saja laut dapat menghasilkan uang yang banyak, tentu akan lebih banyak lagi jika manusia mampu memanfaatkan laut dengan segenap isinya. Sangat dan demikian banyaknya harta yang tersimpan di dalam samudra itu. Apalagi dipenghujung zaman ini, dimana daratan sudah terasa sempit, sushnya mencari kehidupan di daratan dan sempitnya lahan untuk tempat bermukim. Tempat yang sempit itupun telah tercemar, tercemar secara fisik dan kimiawi dan juga tercemar oleh kelakuan penduduk di atasnya yang suddah tidak senonoh dan tidak menurut norma-norma. Maka mari kita lepaskan pandangan jauh ke Laut lepas, mungkin disana akan kita temui hal-hal yang selalm ini tidak kelihatan. Jangan sampai kita hidup diatas harta yang melimpah ruah, tapi penduduknya sangat miskin. Dan Laut kita dikuasai oleh bangsa lain. Dan tak sedikit kekayaan laut kita yang di curi oleh bangsa lain. Jangan sampai kita di kenai oleh syair sebuah lagu : Lompong sagu bagulo lawang Di tangah-tangah karambia mudo Sadang katuju di ambiak urang Awak juo nan malapeh aoo.
Janganlah menjadi orang yang merugi, begitu perintah Tuhan berkali-kali. Padahal Indonesia di beri gelar Kontinental Island. Benua kepulauan atau benua ke lautan. Karena satu-satunya negara didunia ini yang mempunyai gugusasn pulau sebanyak 17508 buah dan memmpunyai lautan yang terluas dan terdalam dengan segenap isinya yang masya Allah bukan main, tinggal mengeruk kekayaan dan harta yang di pendamnya.
Saya simak ternyata ada puluhan ayat Al-Quran yang khusus berceritra tentang lautan dengan segenap isi dan kekayaannya. Dan yang sangat menarik ialah tak ada satupun ayat atau hadis yang mengahramkan memakan apa-apa yang berasal dari laut. Bahkan justru penghalallan. Bahkan untuk yang hidup di darat Allah mengharamkan memakan binatang, babi, bangkai dan binatang yang di sembelih dengan tidak menyebut nama Allah. Tapi untuk yang hidup di laut Allah tampaknya memberi dispensasi, sampai-sampai bang kainyapun halal di makan. Bahkan ikan yang sudahlama mati, menjadi kering dan mersikpun boleh di makan. Se akan Tuhan memberi dorongan, kenapa kita membiarkan laut dan tidak menoleh kepadanya dan mengeruk isinya.
Untuk itu saya teringat akan satu Firman Suci Nya dalam Al-Qur'an surat Al KAhfi ayat 61 :"Maka tatkala mereka sampai kepertemuan dua buah laut itu, mereka lupa akan ikannya, laluikan itu melompat mengambil jalannya kelaut itu". Surat AR RAhman ayat 19,22,24 :"Dia membiarkan kedua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu.
Dari keduanya keluar mutiara dan marjan.
Dan kepunyaanNyalah bahtera-bahtera yang tinggi layarnya di lautan laksana gunung-gunung. P a d a n g 16 April 1994
Trackback(0)
|