Home
Daftar Anggota
Galleri
Resep
Restoran Minang
Games
Download
Kamus Minang
Chat
Bursa Iklan
Radio Online
Weblink
Advertisement
Menu Situs
Berita
Artikel
Prosa
Tokoh Minang
Adat Budaya
Agama
Kolom Khusus
Pariwisata
Berita Keluarga
Giring2 Perak
Berita Yayasan
Pituah

Nan babarih nan dipahek
Nan baukua nan di kabuang
Jalan luruih nan ditampuah
Labuah Pasa nan dituruik
Milis Minang
Rantaunet
Surau
Aktivis Minang
Media Padang
PosMetro Padang
Advertisement
Sinyaru PDF Print E-mail
Written by Dr. H. K. Suheimi   
Monday, 23 April 2007

ImageHilang si nyaru tampak pagai 
Hilang di lamun-lamun ombak
Hilang si bungsu dek parangai
Hilang di mato rang nan banyak
 
Demikanlah  bait-bait  dalam dendang pauh  yang  dapat  saya simak,  petuah dan pepatah dalam dendang Pauh ini enak di  dengar dan  perlu  di simak dan dalam maknanya. Yang  saya  ingat  waktu mendengar  dendangitu hanyalah pulau Sinyaru yang jauh di  tengah
lautan  Indonesia  yang dapat saya saksikan waktu  bertualang  ke kepulaun  Mentawai, ke Pagai utara dan Pagai Selatan  dengan  ibu kota si kakap dan sipora, kemudaian terus ke si berut Selatan dan Utara  dengan  ibu kotanya Muara siberut  dan  Muara  Sikabaluan, kemudian dengansampan kecil kami masuki sampai ke pedalaman pulau yang  hanya dapat di tempuh melalui jalan-jalan sungai,  berhari-hari  kami diatas sampan menuju desa-desa terpencil dan  tertinggal.

Mendengar pulau si nyaru, saya teringat akan  kepulauan  disekitarnya yang pernah saya jalani dan tempat kami berkemah serta bermalam.  Mulai dari pulau Nyamuk, pulau Pagang, Pulau si  kuai, pulau  Bintangur  dan pulau persumpahan.  Semua  pulau-pulau  itu
pernah  kami singgahi dengan pengalaman-pemngalaman  yang  aduhai sangat indah untuk di kenang. Bermain, berlari, berenang,  menyelaman,  bersampan,  memancing,  memanjat  kelapa  muda.  Malamnya mencolok,  menangkap  udang  bingkaro dan memburu  ikan.  3  hari bermalam dan mengelilingi pulau di tahun 68. Oh luar biasa senang dan nikmatnya. Dan betapa sedihnya ketika harus meninggalkan  dan berpisah  dengan  pulau dan teman-teman. Entah pabila  dan  entah kapan  lagi  bisa menikmati saat-saat seperti dulu.  Rasanya  tak akan  mugkin  lagi, apalagi sekarang, dimana hampir  setiap  hari menolong kelahiran bayi, atau melakukan operasi pada ibu-ibu yang menderita  tumor  dalam kandungannya. Rasanya  tak  mungkin  lagi bergembira  dan merasakan nimatnya bermalam di  pulau.  Sekembali dari  pulau badan terasa sangat segar dan semangat  kerjapun  me­
ningkat.
 
Sekarang  barulah saya sadari betapa laut itu telah  memberi kita nikmat yang sangat banyak. Rasakanlah, bukankah oksigen yang kita  hirup  ini, 70 % dihasilkan oleh laut, makanya  udara  yang paling  kaya dengan oksigen itu adalah di daerah laut.  Beruntung
sekali saya bertempat tinggal di kota Padang di pinggir laut. Dan lembab nisbi dari udara ini yang terbaik di temukan di laut? Kita hirup  udara  dengan lembab nisbi yang tinggi, kita  hirup  udara dengan konsentrasi Oksigen yang tinggi, dan semua itu akan menambah dan menyegarkan kesehatan kita. DAn ketika kecil berasal dari  Pariaman,  dan kalau di Pariaman selalu bermain di pinggir  lautan  kalau  lebaran kami pergi ke Pulau Angso duo,  pulau  ujung, pulau tangah dan pulau kasiak. Kalau sudah sampai di pulau rasan­ ya  enggan  hati  ini untuk pulang. Di  pulau-pulau  itulah  saya menikmati  kebahagian masa kecil, mencari  kucing-kucing,  umang-umang,  bintang laut dan berbagai permainan lainnya.  Laut  telah memuaskan dan membahagiakan hidup saya waktu kecil. Sekarang saya sadari  lagi,  ternyata apapun yang ada di darat  dapat  pula  ditemui  di  laut, sebutlah protein, karbohidrat,  lemak,  mineral, minyak,  lihatlah betapa banyaknya pemboran minyak lepas  pantai.

Setiap  apa  yang ada di laut adalah barang  dan  makhluk-makhluk berharga, sampai-sampai Teripang yang saya jijik melihatnya waktu kecil,  ternyata  memiliki  nilai protein dan  gizi  yang  sangat tinggi,  sehingga  harganya di luar negri, Singapura  dan  Jepang sangat-sangat mahal, tapi di pulau di kampung saya di buang-buang begitu saja. Sedangkan sampah laut atau rumputnya. Rumput lautpun mahal dan sangat berguna, pokoknya semua yang hidup dan tumbuh di laut mempunyai potensi ekonomi dan kesehatan yang sangat  tinggi.

Tidak  salah  lagi orang yang menguasai laut adalah  bangsa  yang besar  dan  kaya. Bukankah Jayanya Inggeris  karena  mereka  bisa menaklukkan  dan memanfaatkan laut?, sehingga dia bisa  menguasai seluruh  dunia  dengan  segenap isinya?..  Bukankah  Bangsa  kita pernah  besar  dan  terkenal di zaman  Sriwijaya  dan  Majapahit, karena  nenek moyang kita gemar menempuh  samudra,  sampai-sampai kekuasaan  nenek moyang kita dahulu sampai ke  Madagaskar,  yaitu Amerika  Selatan di dekat Peru. Berarti nenek moyang  kita  telah mengharungi Samudra Pasifik. Itu makanya adat istiadat dan bahasa
di  Madagaskar banyak miripnya dengan bangsa Indonesia.  Demikian terkenal  dan hebatnya nenek moyuang kita di zaman  dahulu  dapat kita simak dari alunan sebuah lagu :

Nenek moyangku orang pelaut
Gemar menmpuh luas Samudra
Menemuh ombak Tiada takut
Menghadang badai sudah biasa.

Nenek  moyang kita terkenal dan piawai adalah karena  mereka mengerti dengan ilmu perlautan dan mengerti seluk beluk laut.

Sekarang  kita baru terbatas menikmati laut  sebagai  tempat yang  indah dengan pemandangan yang aduhai mulai dari  pinggirnya sampai  ke  tengah dan ke dalam lautan dengan  pulau  dan  tempat menyelam.  Sehingga  tempat beristirahat yang  paling  mahal  itu justru di Pulau. Lihat saja setiap minggu banyak orang di Jakarta bersantai  di  Pulau Putri Duyung di kepulauan  seribu,  walaupun biayanya  sangat  mahal orang tak peduli. Dan setelah  saya  coba bandingkan ternyata gugusan pulau di Samudra Indonesia jauh lebih
cantik  dan  indah termasuk karang-karang dan  ikan  hiasnya  dan lebih alami.

Kalau untuk rekreasi saja laut dapat menghasilkan uang  yang banyak,  tentu akan lebih banyak lagi jika manusia  mampu  memanfaatkan laut dengan segenap isinya. Sangat dan demikian banyaknya harta yang tersimpan di dalam samudra itu.
Apalagi dipenghujung zaman ini, dimana daratan sudah  terasa sempit, sushnya mencari kehidupan di daratan dan sempitnya  lahan untuk tempat bermukim. Tempat yang sempit itupun telah  tercemar, tercemar secara fisik dan kimiawi dan juga tercemar oleh kelakuan
penduduk  di atasnya yang suddah tidak senonoh dan tidak  menurut norma-norma.  Maka  mari  kita lepaskan pandangan  jauh  ke  Laut lepas,  mungkin  disana akan kita temui hal-hal yang  selalm  ini tidak  kelihatan.  Jangan  sampai kita hidup  diatas  harta  yang
melimpah  ruah,  tapi penduduknya sangat miskin.  Dan  Laut  kita dikuasai  oleh  bangsa lain. Dan tak sedikit kekayaan  laut  kita yang  di curi oleh bangsa lain. Jangan sampai kita di kenai  oleh syair sebuah lagu :


Lompong sagu bagulo lawang
Di tangah-tangah karambia mudo
Sadang katuju di ambiak urang
Awak juo nan malapeh aoo.

Janganlah  menjadi orang yang merugi, begitu perintah  Tuhan berkali-kali. Padahal Indonesia di beri gelar Kontinental Island. Benua kepulauan atau benua ke lautan. Karena satu-satunya  negara didunia ini yang mempunyai gugusasn pulau sebanyak 17508 buah dan memmpunyai lautan yang terluas dan terdalam dengan segenap isinya yang masya Allah bukan main, tinggal mengeruk kekayaan dan  harta yang di pendamnya.

Saya  simak ternyata ada puluhan ayat Al-Quran  yang  khusus berceritra tentang lautan dengan segenap isi dan kekayaannya. Dan yang  sangat menarik ialah tak ada satupun ayat atau  hadis  yang mengahramkan  memakan  apa-apa  yang berasal  dari  laut.  Bahkan
justru  penghalallan.  Bahkan  untuk yang hidup  di  darat  Allah mengharamkan memakan binatang, babi, bangkai dan binatang yang di sembelih dengan tidak menyebut nama Allah. Tapi untuk yang  hidup di  laut Allah tampaknya memberi dispensasi, sampai-sampai  bang­
kainyapun halal di makan. Bahkan ikan yang sudahlama mati, menjadi  kering  dan mersikpun boleh di makan. Se akan  Tuhan  memberi dorongan, kenapa kita membiarkan laut dan tidak menoleh kepadanya dan mengeruk isinya.

Untuk itu saya teringat akan satu Firman Suci Nya dalam  Al-Qur'an surat Al KAhfi ayat 61 :"Maka tatkala mereka sampai kepertemuan dua buah laut itu, mereka lupa akan ikannya, laluikan  itu melompat mengambil jalannya kelaut itu".
 
Surat AR RAhman ayat 19,22,24 :"Dia membiarkan kedua  lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu.  

Dari keduanya keluar mutiara dan marjan.

Dan kepunyaanNyalah bahtera-bahtera yang tinggi layarnya  di lautan laksana  gunung-gunung.
 
 
 
P a d a n g  16 April 1994

Trackback(0)
Comments (1)add comment

arahim said:

Sungguh indah pulau-pulau berdekatan dgn.kepulauan Mentawai.
Kalau tidak salah saya, pulau Madagaskar berdekatan benua Afrika.
Wassalam.
 
report abuse
vote down
vote up
April 23, 2007
Votes: +0

Write comment
You must be logged in to a comment. Please register if you do not have an account yet.

busy
 
< Prev   Next >
Yayasan Palanta Cimbuak
Yayasan Palanta Cimbuak
Dari Awak, Oleh Awak, Untuak Kampuang
Nio berpartisipasi? Silakan klik disiko
Cimbuak Features

Cimbuak Chat


Cimbuak Chat


Free Email


Free Email
Donasi Terakhir

Donasi untuk Cimbuak
Dari Jumlah
 Harmailis Rp.   200.007,--
 Ajo Duta / Mak Uncu Rp.   1.000.000,--
Inyiak Jangkuang Rp.   56.789,--
Dave, Melbourne Rp. 300.000,--
Balance Sementara
Rp. 1.116.796,--
Situs Terbaik
Online Sekarang
We have 10 guests and 12 members online
Generated in 1.91707 Seconds