Tafsir Pantun Minang (9) : Pantun Adat PDF Print E-mail
Written by Dr. Darwis SN St. Sati   
Thursday, 31 May 2007
Article Index
Tafsir Pantun Minang (9) : Pantun Adat
Page 2
Page 3
Page 4
Page 5
Page 6
Page 7
Page 8
Page 9
Page 10
Page 11
Page 12
Page 13
Page 14
Page 15
Page 16
Page 17
Page 18
Page 19
Page 20

Biriek-biriek tabang kasamak,
Dari samak ka halaman.
Dari niniek turun ka mamak,
Dari mamak ka kamanakan.


Artinya :
Birik-birik terbang ke semak
Dari semak ke halaman.
Dari ninik turun ke mamak
Dari mamak ke kemenakan.

Tafsir sampiran:
    Biriek-biriek tabang kasamak, dari samak kahalaman. Biriek-biriek adalah sejenis
burung gelatik kecil yang tidak bisa terbang jauh. Dian biasa terbang disemak-semak (belukar kecil), untuk mencari makanan. Dalam sampiran ini dikatakan bahwa setelah terbang disemak-semak, kemudian biriek-biriek itu terbang pula kehalaman rumah.

Tafsir isi pantun:
    Dari niniek turun kamamak, dari mamak ka kamanakan.  Ini merupaka satu ketentuan dari masyarakat yang matriarchat. Yang dimaksud dengan niniek adalah kakek, kamanakan adalah anak dari adik atau kakak perempuan. Sedangkan mamak adalah saudara laki-laki dari ibu . Bagi kebanyakan orang  Minang sebenarnya kata niniek itu jarang dipakai , tidak seperti kata mamak dan kamanakan yang memang popular.
            Kata yang sering terpakai adalah “inyiek” yang terdiri dari : Inyiek laki-laki, dipendekkan dengan “Nyiek Aki” dan dalam bahasa halusnya disebut “kakek”. Lalu ada inyiek perempuan atau inyiek padusi, yang dipendek dengan “Nyiek Uci” atau dalam bahasa halusnya disebut “nenek”. Pantun ini mengatakan: dari kakek, turun kemamak, dari mamak ke kemenakan. Semua orang yang disebut disini adalah laki-laki; tidak ada disebutkan dimana kedudukan ibu dan ayah. Tidak dikatakan: dari kakek turun kebapak, dari bapak kepada anak.
    Ada berbagai kemungkinan yang dimaksudkan oleh pantun ini, namun pada umumnya adalah jalur menurunkan perintah atau kebijaksanaan atau petunjuk, atau ilmu tertentu (biasanya ilmu kebatinan) dan sebagainya. Misalnya ada seseorang memiliki satu ilmu gaib, memiliki keris keramat, atau mempunyai jin, maka kalau dia sudah tua, miliknya itu tidak dapat diwariskan kepada anaknya, tetapi harus kekemenakannya yang laki-laki. Kalau ada petunjuk tertentu yang harus dilaksanakan, disampaikan kepada mamak atau kepada kemenakan yang laki-laki, tidak bias kepada ayah.
    Status ayah dalam keluarga Minang yang asli, hanyalah sebagai orang semenda, atau dalam istilah adatnya disebut: “seperti abu diatas tunggul” Artinya kalau angin kencang datang, maka abu itu akan habis ditiup angin, sehingga tinggal tunggul saja lagi.
Jadi status hukum dari seorang lelaki dalam keluarga Minang sangat tipis. Dia bias didepak dengan mudah, dan secara adat dia tak punya apa-apa. Walaupun dia sudah banyak membuat rumah, namun tidak ada rumahnya. Yang ada adalah rumah anak atau rumah orang tua. Banyak yang berpendapat bahwa ini adalah merupakan factor yang menyebabkan orang Minang suka merantau.


Last Updated ( Thursday, 31 May 2007 )
 
< Prev   Next >




Generated in 7.78328 Seconds