|
Pituah |
Malompek samo patah Manyaruduak samo bungkuak Tatungkuik samo makan tanah Tatalantang samo minum aie |
|
|
Tafsir Pantun Minang (9) : Pantun Adat |
|
|
|
|
Written by Dr. Darwis SN St. Sati
|
|
Thursday, 31 May 2007 |
|
Page 8 of 20 Pisang sikalek-kalek hutan, Pisang timbatu nan bagatah. Koto Piliang inyo bukan. Budi Caniago inyo antah.
Artinya: Pisang sikelat- kelat hutan, Pisang tembatu (keprok) yang bergetah. Koto Piliang dia bukan, Budi Caniago dia tidak.
Tafsir sampiran: Pisang sikalek-kalek hutan, pisang timbatu nan bagatah. Pisang hutan adalah pisang yang tumbuh secara liar dihutan, tidak ada yang menanam pisang itu, karena kecil-kecil buahnya, banyak biji buahnya, dan rasanya kelat (sepat) . Biasanya hanya moyet yang memakannya. Itu sebabnya kadang-kadang dinamakan pisang kera. Sedangkan pisang timbatu, atau biasa disebut di Minangkabau dengan “pisang batu”, di Bogor disebur pisang keprok. Terkenal dimasyarakat Minang untuk kolak dan pisang goreng, biasa dimakan dengan ketan atau nasi lemak.
Tafsir isi pantun: Koto Piliang inyo bukan, Budi Caniago inyo antah. Ada dua suku dasar di Minagkabau, yaitu Suku Koto Piliang dan Suku Budi Caniago. Kedua suku inilah yang merupakan suku asli orang Minang. Sesuai dengan pertambahan penduduk, maka secara bertahap terjadilah semacam pemisahan dari suku induk, lalu kemudian membentuk suku baru sehingga semakin lama semakin banyak suku. Namun asalnya tetap suku yang dua itu. Dikatakan dalam satu literature bahwa Koto Piliang itu asal katanya dari Kato Pilihan, yang dipimpin oleh Datuk Katumanggungan. Sistem pemnerentahan dalam suku ini adalah system kerajaan. Praktek pelaksanaan pemerentahan adalah berdasarkan “kato pilihan” yang keluar dari mulut Datuk Ketumanggungan. Apa yang dikatakannya itu merupakan undang-undang, aturan yang harus dilaksanakan. Datuk Katumanggungan memerentah dengan enak, tampa beban, tak banyak yang dipikirkan, sehiongga dikatakan kalau tidur dia menggunakan bambu dibelah sebagai bantal. Yang mengisyaratkan bahw adia bisa tidur nyenyak, karena bamboo yang dibelah itu mantak letaknya tidak goyang. Sedangkan suku yang satunya lagi Budi Caniago berasal dari perkataan Budi / Tanago. Yang dipimpin oleh Datuk Perpatih nan Sebatang , secara demokrasi. Segala sesuatu yang akan dilaksanakan selalu berdasarkan hasil musyawarah, mengambil kata mufakat. Kaum ini mengutamakan budi (sopan santun) dan tenaga (rajin bekerja). Dikatakan bahwa Datuk Perpatih nan Sebatang ini, karena pekerja keras dan banyak memikirkan kaumnya, maka dia jarang tidur. Untuk itu dia menggunakan kelapa bulat sebagai bantal untuk tidur, yang mengibaratkan bahwa dia tidak bias tidur nyenyak. Pantun ini menyatakan sebagian orang Minang yang tidak jelas suku sakonya. Dari turungan Budi Caniago diua bukan, namun tidak pula dari Koto Piliang, jadi tidak jelas asal usulnya. Mungkin dia berasal dari suku bangsa lainnya yang sudah lama menetap di Minangkabau. Asal usul turunan ini sangat penting bagi masyarakat Minang, yang kadang-kadang menunjukkan derjad seseorang dim,asyarakat. Terutama sekali kalau ingin mencari menantu, selalu dikaji asal usulnya lebih dulu baru disetujui. Kalau ibu bapaknya, kakek atau nenek moyangnya ada yang dari suku bangsa lain, tunggu dulu, perlu dipikirkan matang-matang. Apalagi yang berasal dari Suku Terasing atau dari agama lain, itu akan sulit diterima.
|
|
Last Updated ( Thursday, 31 May 2007 )
|
|
|
Yayasan Palanta Cimbuak |
 Dari Awak, Oleh Awak, Untuak Kampuang Nio berpartisipasi? Silakan klik disiko |
|
Online Sekarang |
|
We have 6 guests and 11 members online |
|