Tafsir Pantun Minang (9) : Pantun Adat PDF Print E-mail
Written by Dr. Darwis SN St. Sati   
Thursday, 31 May 2007
Article Index
Tafsir Pantun Minang (9) : Pantun Adat
Page 2
Page 3
Page 4
Page 5
Page 6
Page 7
Page 8
Page 9
Page 10
Page 11
Page 12
Page 13
Page 14
Page 15
Page 16
Page 17
Page 18
Page 19
Page 20


Walau hinggok nan mancakam
Kuku nan tajam tak baguno.
Walau mamacik tampuak alam,
Kato mupakaik nan kuaso.


Artinya: 

Walau hinggap dengan mencekam,
Kuku yang tajam tak ada gunanya.
Walau memegang tampuk alam,
Kata mufakat yang berkuasa.

Tafsir sampiran:
    Walau hinggok nan mancakam,kuku nan tajam tak baguno. Maksudnya walaupun seorang penguasa , posisinya sudah mantap, kedudukannya kuat tak tergoyahkan, akan tetapi kukunya yang tajam tak ada gunanya. Maksudnya dia tidak bisa sesuka hatinya menggunakan kekuatannya itu. Ini juga menegaskan lagi system pemerentahan dalam satu negara yang demokratis, yang merupakan salah satu ciri dari kerajaan Minangkabau
    Dalam pantun ini dikatakan, walaupun telah memegang tampuk alam (kalau diibaratkan alam semesta ini mempunyai tampuk, maka dia telah memegang tampuk itu), artinya , kalau sebagai kepala negara dia telah memiliki kekuasaan mutlak yang tidak dapat diganggu gugat, namun dia tak bisa memerentah sewenang-wenang sesuka hatinya saja. Karena ada undang-undang ada hukum yang harus diikuti. Berbeda dengan pantun-pantun lainnya, dalam pantun ini terdapat hubungan  pengertian antara sampiran dan isi pantun, atau ada keterkaitannya, walaupun pada sampiran masih tetap merupakan gejala alam (alam Takambang). Kalau pada pantun lain umumnya hampir tak ada kaitan pengertian antara sampiran dan isi, yang ada hanyalah persamaan bunyi akhir saja.
 


Last Updated ( Thursday, 31 May 2007 )
 
< Prev   Next >




Generated in 7.81123 Seconds