|
Pituah |
Kok diajak urang pasupadan Kok dialiah urang kato pusako Kok dirubah urang kato dahulu Jan cameh nyawo malayang Jan takuik darah taserak
|
|
|
Tafsir Pantun Minang (9) : Pantun Adat |
|
|
|
|
Written by Dr. Darwis SN St. Sati
|
|
Thursday, 31 May 2007 |
|
Page 16 of 20
Daulu rabab nan batangkai, Kini cubadak nan baguno. Daulu adaik nan bapakai, Kini lagak nan paguno.
Artinya:
Dahulu rebab yang bertangkai, Kini cempedak yang berguna. Dahulu adat yang dipakai, Kini lagak yang berguna.
Tafsir sampiran: Dahulu rabab nan batangkai, kini cubadak nan baguno. Rebab adalah sebangsa alat musik yang sangat populer pada masyarakat Minang zaman dulu, menduduki peringkat kedua sesudah saluang (seruling bambu). Rebab itu hampir sama dengan biola, alat musik gesek yang bertangkai. Cuma cara memakainya diberdirikan dilantai, pemainnya duduk bersila. Beda dengan biola yang dimainkan sambil berdiri dan biolanya dikepit dileher (antara bahu dan dagu orang yang memainkannya). Antara biola dengan cempedak atau nangka itu tak ada kaitan sama sekali, ini dipakai hanya untuk mendapatkan persamaan bunyi saja.
Tafsir isi pantun : Daulu adaik nan dipakai, kini lagak nan baguno. Ini satu pernyataan bahwa pengaruh adat itu semakin lama semakin luntur. Dizaman dulu hampir setiap segi kehidupan masyarakat Minang diatur menurut adat. Seperti adat perkawinan, adat berbicara , adat makan, adat pergaulan dengan orang tua, dengan sema anak muda , dengan yang lebih kecil dan sebagainya. Pokoknya semuanya ada aturan adatnya yang harus diikuti, yang biasanya memang dipatuhi. Akan tetapi dengan pengaruh “kemajuan” zaman atau yang terkenal modernisasi, pengaruh dari kebudayaan Barat, semuanya jadi berobah. Kini lagak nan baguno, maksudnya yang penting sekarang ini adalah “lagak” atau penampilan yang harus terlihat sesuai dengan zaman moderen, harus terlihat tidak kuno. Mereka merasa rendah gengsinya bila tetap mengikuti cara-cara adat. Yang paling jelas sekali adalah mengenai adat makan, dizaman dulu cara makan orang Minang menuruti adat tertentu, kalau sekarang cara orang makan tidak lagi beradat. Diantara adat makan yang paling utama adalah: “makan sambil duduk”. Kalau makan sambil berdiri atau bahkan sambil berjalan itu adalah binatang. Dizaman dulu bila seorang ibu melihat anaknya makan sambil berdiri akan segera dimarahi dan disuruh duduk. Kalau makan bersama pada acara kenduri atau perhelatan, makanan diletakkan ditengah rumah dalam satu barisan, lalu orang duduk dikiri kanan makanan itu dengan teratur. Yang tua duduk dimuka dan yang muda-muda duduk dibagian belakang. Makan dilakukan dengan serentak yang didahului dengan “kata pasambahan”. Kalau kita perhatikan pelaksanaan makan pada pesta-pesta zaman sekarang, pada hakikatnya persis sama dengan apa yang dilakukan oleh binatang. Sekarang sering kita lihat pada tayangan televisi kalau segerombolan binatang buas (singa) berhasil menangkap mangsanya katakanlah seekor rusa ditengah padang. Maka cara makan orang dalam satu pesta sekarang ini persis sama dengan cara gerombolan singa memakan mangsanya itu. Singa itu akan datang bergantian, atau bergerombol mengambil makanan , lalu menggonggongnya pergi dan memakan makanan itu sambil berdiri atau sambil berjalan. Itulah ironisnya manusia zaman sekarang, kebiasaan yang setback, kembali kearah meniru kebiasaan hewan, dikatakan suatu “kemajuan” atau modernisasi. Banyak sekali contoh-contoh yang terkait dengan ini, yang tak akan diuraikan disini.
|
|
Last Updated ( Thursday, 31 May 2007 )
|
|
|
Yayasan Palanta Cimbuak |
 Dari Awak, Oleh Awak, Untuak Kampuang Nio berpartisipasi? Silakan klik disiko |
|
Donasi Terakhir |

| Dari | Jumlah | | Harmailis | Rp. 200.007,-- | | Ajo Duta / Mak Uncu | Rp. 1.000.000,-- | | Inyiak Jangkuang | Rp. 56.789,-- | | Dave, Melbourne | Rp. 300.000,-- | Balance Sementara
| Rp. 1.116.796,-- | |
|
Online Sekarang |
|
We have 3 guests and 12 members online |
|