Tafsir Pantun Minang (9) : Pantun Adat PDF Print E-mail
Written by Dr. Darwis SN St. Sati   
Thursday, 31 May 2007
Article Index
Tafsir Pantun Minang (9) : Pantun Adat
Page 2
Page 3
Page 4
Page 5
Page 6
Page 7
Page 8
Page 9
Page 10
Page 11
Page 12
Page 13
Page 14
Page 15
Page 16
Page 17
Page 18
Page 19
Page 20


Nagari bapaga undang,
Kampuang bapaga buek.
Tiok lasuang baayam gadang,
Salah tampuah bulieh diambek.

Artinya: 

Negeri berpagar undang-undang,
Kampung berpagar aturan.
Setiap lesung berayam gadang,
Salah jalan boleh dihentikan.

Tafsir sampiran:
    Nagari bapaga undang, kampuang bapaga buek.  Nagari adalah satu wilayah pemerentahan tertentu yang dikepalai oleh Kepala Nagari dan juga merupakan satu wilayah adat. Dizaman Belanda dulu batas wilayah satu “nagari” yang berdasarkan adat setempat, secara resmi diakui oleh pemerentah sebagai kesatuan wilayah pemerentahan terendah. Dizaman Orde Baru system yang sudah berurat berakar itu, dirobah , dimana suatu nagari dipecah-pecah menjadi “jorong” atau dusun atau lurah, seperti yang ada dipulau Jawa. Setelah orde baru tumbang, maka status nagari itu dikembalikan seperti semula sampai sekarang.
    Sebuah nagari terdiri dari beberapa buah kampung, yang dikepalai oleh Kepala Kampung. Jadi wilayah kampung lebih kecil dari pada nagari. Sementara itu yang disebut undang dalam sampiran ini adalah undang-undang, dan buek adalah peraturan yang dibuat berdasarkan undang-undang itu, merupakan aturan pelaksanaan dari yang disebut dalam undang-undang. Jadi system pemerentahan demokrasi yang dianut sekarang ini sudah ada dalam adat Minangkabau dari zaman dulu.

Tafsir isi pantun:
    Satiok lasuang ba-ayam gadang,salah tampuah bulieh diambek. Isi pantun ini menggambarkan satu system pemerentahan dalam adat Minangkabau. Lesung disini menggambarkan satu kesatuan wilayah adat atau kelompok masyarakat tertentu. Dalam pola kehidupan masyarakat Minang sehari-hari, setiap rumah gadang mempunyai satu atau beberapa lesung dihalamannya. Lesung itu ada yang terbuat dari kayu dan ada pula yang dari batu, dipergunakan untuk menumbuk padi jadi beras dan biasanya dilakukan oleh kaum wanita. Setelah selesai pekerjaan rumah dipagi hari dan orang laki-laki sudah pergi berangkat kerja kesawah atau ladang, maka ibu-ibu ada yang menumbuk padi bersama-sama dihalaman rumah sambil bersenda gurau.
    Lokasi tempat menumbuk padi itu menarik perhatian dari ayam piaraan, yang biasanya banyak pada setiap rumah, karena ada saja padi atau beras yang berserakan disekitar situ . Dalam kumpulan ayam itu terdapat satu ekor ayam jantan sebagai pemimpinnya . Ayam jantan itu mengatur pembagian makanan diantara anggotanya, biasanya dia akan mengutamakan anak ayam lebih dulu, lalu ayam yang betina, kalau ada
ayam jantan lainnya yang mengganggu dihalanginya. Tugas dari induk ayam lain lagi, dia terutama menjaga dan mengumpulkan anak-anaknya, sementara ayam jantan lainnya disuruh mencari makan ditempat lain (merantau?), tidak dibenarkan ikut pula sebagai konsumen dalam kelompok itu. Pantun ini mengibaratkan masyarakat ayam disekitar lesung tersebut dengan system kemasyarakatan Minangkabau.
    Salah tampuah bulieh diambek, maksudnya kalau ada yang berbuat salah apakah disengaja atau tidak, boleh dilarang, dihentikan, bahkan boleh dihukum sesuai dengan tingkat kesalahannya. Ketentuan ini akan menyebabkan satu kesatuan masyarakat akan dapathidupdenganamanmakmurdandamai.



Last Updated ( Thursday, 31 May 2007 )
 
< Prev   Next >




Generated in 8.70366 Seconds