|
Pituah |
Gunuang biaso timbunan kabuik Lurah biaso timbunan aia Lakuak biaso timbunan sampah Lauik biaso timbunan ombak Nan hitam tahan tapo Nan putiah tahan sasah Disasah bahabih asa Dikikih bahabih basi |
|
|
Tafsir Pantun Minang (9) : Pantun Adat |
|
|
|
|
Written by Dr. Darwis SN St. Sati
|
|
Thursday, 31 May 2007 |
|
Page 9 of 20 Mancampak sambie kahulu, Dapeklah pantau dek manjalo. Adaik luhak bapangulu Kok rantau bari barajo.
Artinya:
Membuang sambil kehulu, Dapat pantau dengan menjala. Adat Luhak ber-penghulu, Kalau rantau diberi raja.
Tafsir sampiran : Mancampak sambie kahulu, dapeklah pantau dengan menjala. Sambil kehulu maksudnya sambil pergi keladang dihulu sungai, dibawa barang tak berguna yang akan dicampakkan atau dibuang. Orang Minang memang suka menangkap ikan dengan menggunakan jala atau jarring (dalam hal ini juga dinamakan tangguk, yaitu jarring yang diberi tangkai), disungai, dikolam ikan, didanau dan sebagainya. Disini dikatakan bahwa ikan yang didapat itu pantau (ikan kecil).
Tafsir isi pantun Adaik luhak bapangulu, rantau diberi barajo. Secara garis besarnya daerah Minangkabau itu dibagi atas dua bagian besar yaitu “luhak” dan “rantau” . Daerah luhak adalah daerah aslinya Minangkabau yang terdiri dari Luhak Agam, Luhak Limapuluh Kota dan Luhak Tanah Datar. Sementara daerah lainnya yang terletak didataran rendah dinamakan rantau, mungkin daerah itu baru dikembangkan setelah orang-orang merantau kesiti. Daerah ini misalnya: Pasaman, Padang Pariaman, Pesisir Selatan, Sawahlunto Sijunjung dan sebagian daerah Riau dan Jambi. Pantun ini menjelaskan bahwa system pemerentahan didaerah Luhak adalah dengan memakai system pemerentahan penghulu atau ninik mamak. Sementara yang dirantau dengan system kerajaan. Mungkin saja dizaman dulu orang-orang dari daerah Luhak, merantau kedaerah rantau, lalu diangkat jadi raja didaerah itu. Kalau akan diangkat menjadi datuak tak mungkin sebab, dia tidak mempunyai anak kemenakan disitu. Ini menunjukkan bahwa Minangkabau ini berkembangnya dimulai dari daerah pegunungan sekitar Gunung Merapi dan Gunung Singgalang, kemudian baru menyebar kedaerah dataran yang lebih rendah. Jadi nenek moyang orang Minang ini tidak datang lewat laut, akan tetapi lewat pegunungan. Kemungkinannya nenek moyang itu dating dengan perahu pada zaman alluvial, dimana sebagian besar daratan terendam air, atau bias juga dating dari Jawa melalui puncak Bukit Barisan.
|
|
Last Updated ( Thursday, 31 May 2007 )
|
|
|
Yayasan Palanta Cimbuak |
 Dari Awak, Oleh Awak, Untuak Kampuang Nio berpartisipasi? Silakan klik disiko |
|
Donasi Terakhir |

| Dari | Jumlah | | Harmailis | Rp. 200.007,-- | | Ajo Duta / Mak Uncu | Rp. 1.000.000,-- | | Inyiak Jangkuang | Rp. 56.789,-- | | Dave, Melbourne | Rp. 300.000,-- | Balance Sementara
| Rp. 1.116.796,-- | |
|
Online Sekarang |
|
We have 1 guest and 7 members online |
|