Home
Daftar Anggota
Galleri
Resep
Restoran Minang
Games
Download
Kamus Minang
Chat
Bursa Iklan
Radio Online
Weblink
Advertisement
Cimbuak Toolbar
Menu Situs
Berita
Artikel
Prosa
Tokoh Minang
Adat Budaya
Agama
Kolom Khusus
Pariwisata
Berita Keluarga
Giring2 Perak
Berita Yayasan
Pituah

Nan babarih nan dipahek
Nan baukua nan di kabuang
Jalan luruih nan ditampuah
Labuah Pasa nan dituruik
Milis Minang
Rantaunet
Surau
Aktivis Minang
Media Padang
PosMetro Padang
Advertisement
Balai Panjang PDF Print E-mail
Written by Jon Safrizal Koto   
Saturday, 21 August 2004
Balai Panjang adalah suatu tempat di Sungai Pua yang melakukan aktifitas perdagangan hasil pertanian dan kebutuhan pokok harian dari warga yang terletak di persimpangan atau boleh dikatakan juga sebagai sentral dari Sungai Pua.

Sebelum adanya balai yang terlokalisir seperti sekarang ini, para pedagang berjualan disepanjang jalan mulai dari simpang empat (Balai Sekarang) sampai ke tanah lapang (depan Balai Adat), dipenuhi oleh para pedagang pada kiri kanan jalan, berdasarkan kebijaksanaan Tuanku Laras Sungai Pua, balai yang sepanjang jalan tersebut di lokalisir pada tempat yang sekarang ini, Dengan latar belakang itulah dinamai "Balai Panjang".
Balai Panjang bagi masyarakat Sungai Pua mempunyai makna tersendiri selain tempat berjual beli, banyak sejarah dan romantikanya bagi masyarakat. Selain Balai Panjang sebagai tempat transaksi perdagangan mempunyai fungsi unik lainnya.
Untuk tempat perdagangan selain Balai Panjang terdapat lagi tempat orang melakukan transaksi perdagangan di Sungai Pua yang disebut balai ambek dan ini sudah ada semenjak zaman Jepang. Balai ambek ini adalah tempat bagi para grosir yang datang dari Bukittinggi, Batusangkar, Payakumbuh dan kota-kota lain untuk menyongsong masyarakat yang mau menjual hasil bumi dan kerajinan sebelum sampai di Balai Panjang, maka dikenalah nama jadi "Balai Ambek". Balai Ambek itu adalah balai "Tampuruang" di jorong Limo Suku, balai "Galanggang Hantu" di Kapalo Koto. Setiap pagi kaum ibu menjual hasil kerajinan anyaman mansiro seperti sumpit/karung yang waktu itu sangat dibutuhkan. Hampir tiap pagi Balai Ambek ramai dikunjungi orang, karena pedagang grosir membelinya untuk dibawa ke pasar Bukittinggi, Padang Panjang, Batusangkar, Payakumbuh dll.
Balai Panjang ini bagi para generasi muda tempo dulu juga berfungsi sebagai batu loncatan untuk pergi merantau dan berdagang, karena melalui Balai Panjang inilah mereka mulai berdagang kecil-kecilan. Dan tak sedikit juga diantara mereka sekarang ini yang telah berhasil jadi pengusaha diprantauan.
Selain yang disebutkan diatas, pada masa perjuangan fisik dan setelah kemerdekaan (1945-1949). Balai Panjang juga tempat berkumpulnya orang-orang yang melibatkan diri dalam perjuangan, sembari tukar menukar jual beli, sekaligus dilakukan juga pertukaran informasi. Kegiatan di Balai Panjang umumnya berupa informasi-informasi yang tidak resmi, oleh karena itu pantaslah kalau tidak ada bukti catatan sejarah tentang peranan Balai Panjang dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan terhadap penjajah Belanda yang dilakukan oleh masyarakat Sungai Pua. Para pejuang Sungai Pua dengan caranya sendiri turut aktif dalam menyebarkan info-info kepada teman-teman seperjuangan dan kepada masyarakat Sungai Pua pada umumnya.
Mungkin masih banyak lagi peranan Balai Panjang yang belum terungkapkan, salah satu peranan Balai Panjang yang unik adalah Balai Panjang sebagai "Bursa Jodoh". Mencari jodoh, menjodohkan anak ataupun kaum kerabat. Dulu sering dialog kaum ibu di Balai Panjang : "Eeh…..si anu lah pulang, iyo? baa… lah ka bacarigan pulo di rumah? Kalau iyo di pihak ambo adotu nan sasuai barangkali……buliah ndak batambah pulo karik awak".
Begitulah kira-kira kalau ada seorang anak bujang yang pulang dari rantau dan si bujang tersebut telah pantas pula untuk berumah tangga. Karena berpacaran tempo dulu merupakan hal yang tabu bagi masyarakat kita umumnya, maka tidaklah heran dalam soal jodoh menjodohkan ini kedua calon belum sama sekali saling mengenal dan bahkan belum pernah bertemu muka sekalipun, tetapi mereka telah dijodohkan oleh keluarganya.
Balai panjang disini berperanan yaitu kala si bujang ingin melihat calon istrinya, makanya si bujang akan disuruh melihat atau memperhatikan calonnya itu secara diam-diam dari jarak jauh.
Bagaimana dengan balai panjang sekarang, masihkan mempunyai peranan seperti dulu? Apakah keunikan-keunikan ini akan hilang ditelan kemajuan zaman dewasa ini.


*** Sumber dari Bulettin Sungai Puar No 17 - (November 1986)

(Tulisan ini disalin ulang lagi oleh Dewis Natra, Sebelumnya saya minta maaf karena dalam penulisan ulang ada beberapa hal yang di robah dan harapan saya tidak mengubah makna tulisan)
 

Trackback(0)
Comments (0)add comment

Write comment
You must be logged in to a comment. Please register if you do not have an account yet.

busy
 
< Prev   Next >


Advertisement

Yayasan Palanta Cimbuak
Yayasan Palanta Cimbuak
Dari Awak, Oleh Awak, Untuak Kampuang
Nio berpartisipasi? Silakan klik disiko
Cimbuak Features

Cimbuak Chat


Cimbuak Chat


Free Email


Free Email
Donasi Terakhir

Donasi untuk Cimbuak
Dari Jumlah
 Harmailis Rp.   200.007,--
 Ajo Duta / Mak Uncu Rp.   1.000.000,--
Inyiak Jangkuang Rp.   56.789,--
Dave, Melbourne Rp. 300.000,--
Balance Sementara
Rp. 1.116.796,--
Situs Terbaik
Online Sekarang
We have 18 guests and 11 members online
Powered By PageCache
Generated in 0.87252 Seconds