Home
Daftar Anggota
Galleri
Resep
Restoran Minang
Games
Download
Kamus Minang
Chat
Bursa Iklan
Radio Online
Weblink
SPTT Cimbuak
Cimbuak Toolbar
Menu Situs
Berita
Artikel
Prosa
Tokoh Minang
Adat Budaya
Agama
Kolom Khusus
Pariwisata
Berita Keluarga
Giring2 Perak
Berita Yayasan
Pituah

Gunuang biaso timbunan kabuik
Lurah biaso timbunan aia
Lakuak biaso timbunan sampah
Lauik biaso timbunan ombak
Nan hitam tahan tapo
Nan putiah tahan sasah
Disasah bahabih asa
Dikikih bahabih basi
Milis Minang
Rantaunet
Surau
Aktivis Minang
Media Padang
PosMetro Padang
Advertisement
Pendidikan Anak-anak Berbakat PDF Print E-mail
Written by DR. Ahmad Rusfidra   
Thursday, 28 June 2007
Seringkali orang-orang berprestasi hebat dilahirkan oleh orang tua biasa-biasa. Bahkan ditengah keterbatasan sarana untuk berprestasi, orang-orang tersebut mampu menorehkan prestasi luar biasa. Fenome Vika Cikita adalah salah satunya. Sungguh ia adalah anak cerdas. Ia adalah fenomenal. Cobalah perhatikan dengan seksama di sekitar Anda, betapa tidak sedikit anak-anak, orang-orang muda yang punya bakat hebat, bakat fenomenal, namun sayang, seringkali orang-orang tersebut terpaksa mengubur mimpinya. Akibatnya, bakatnya pun tidak berkembang. Bakat (baca faktor genetik) hanyalah salah satu faktor penentu keberhasilan. Diluar faktor genetik, sebenarnya faktor yang lebih dominan dalam menentukan adalah faktor lingkungan, lingkungan keberhasilan, lingkungan kesuksesan.

Pendidikan Anak-anak Berbakat
 

Liputan media masa di Sumatera Barat tentang  prestasi fenomenal Vika Cikita dalam beberapa hari ini masih menggema. Tahun ini gadis berjilbab tersebut menorehkan prestasi sebagai peraih peringkat pertama hasil ujian nasional (UN) se-Sumbar. Prestasi itu tidak hanya membanggakan diri dan keluarganya, namun juga telah mengharumkan SMA Negeri 1 Padang, sekolah dimana Vika menuntut ilmu. Keberhasilan sebagai peraih nilai UN tertinggi se-Sumbar tersebut merupakan bukti kongkrit bahwa Vika adalah anak cerdas. Ia sesungguhnya adalah anak berbakat. Saya kira tidak banyak orang di Sumbar yang bisa berprestasi seperti Vika. Ia adalah anak yang fenomenal. Saya sendiri merasa malu sama Vika. Prestasi yang saya miliki tidak ada apa-apanya di bandingkan prestasi Vika. Meskipun pernah mendapatkan Beasiswa Unggulan Pascasarjana dari Ditjen Dikti Depdiknas untuk melanjutkan pendidikan S2 dan S3, tapi prestasi saya tidaklah sehebat Vika. Prestasi terbaik saya hanya menduduki peringkat ke-3 di SMA. Bahkan setelah lulus SMA pada tahun 1989 dari SMA 2 Pariaman, saya terpaksa menganggur karena tidak lulus ujian masuk PTN (UMPTN). Orang tua saya yang seorang guru SD tidak mampu membiayai saya untuk kuliah di PTS. Saya baru lulus pada UMPTN tahun berikutnya, itupun hanya diterima di Jurusan Produksi Ternak UNAND, tidak sesuai dengan latar belakang saya dari jurusan Fisika dan keinginan saya untuk kuliah di jurusan Teknik Elektro sebuah PTN ternama di ibukota negara. Namun, Alhamdulillah, jalan baru terbuka, setelah tamat S1 saya mendapatkan beasiswa melanjutkan S2 dan S3 dalam bidang peternakan. Kini saya menikmati sebagai staf pengajar di almamater saya di Fakultas Peternakan UNAND Padang. Sementara Vika adalah peringkat terbaik UN se-Sumbar. Luar biasa. Ia fenomenal, karena Vika bukanlah anak orang kaya yang bisa mengikuti beragam les dan bimbingan belajar. Bapaknya hanyalah seorang petugas parkir di kota Padang. Rumah orang tuanya di Jalan Jati Rumah Gadang No 7 RT 01 RW III terbuat dari kayu sederhana. Dinding rumahnya terbuat dari batu dan sebagiannya mulai melapuk. Loteng rumahnya rendah terbuat dari seng bekas yang digunting tak beraturan. Tak ada ruang khusus tempat belajar untuk Vika dan adik-adiknya. Tak ada tumpukan buku pelajaran dirumahnya. Ia bahkan kerap kali berjalan kaki sejauh 5 km dari rumah ke sekolahnya di kawasan Simpang Kandang, begitu penulis baca di situs www. hariansinggalang.co.id.           

Dengan prestasinya tersebut, seharusnya Vika bebas menentukan pilihan untuk melanjutkan kuliah di perguruan tinggi di daerah ini. Sebab ia merupakan “mutiara” terpendam milik daerah ini. Mutiara ini harus terus diasah agar ia berkilau. Harapannya adalah agar ia tidak hanya berkilau untuk diri dan keluarganya, namun juga menebarkan kilaunya kepada generasi seumurnya, mutiara-mutiara lain yang banyak terpendam di nagari-nagari. Saya meyakini bahwa sangat banyak anak-anak cerdas, orang-orang muda berbakat dalam bidang  apapun di ranah Minangkabau. Mereka sesungguhnya adalah aset SDM masa depan negeri ini.           

Kembali ke Vika.

Cita-citanya sejak kecil ingin menjadi dokter. Namun sebagai anak tertua dan alasan ekonomi orangtuanya, pada tahun ini ia hanya mengajukan permohonan sebagi mahasiswa jalur PMDK ke Jurusan Matematika Universitas Negeri Padang. Pilihan tersebut tampak logis dan agaknya tidak terlalu muluk. Namun sayang, ia tidak lolos seleksi PMDK di UNP. Saya pikir pihak UNP memiliki pertimbangan tertentu dalam menetapkan keputusan tersebut. Namun melihat prestasi fenomenal yang ditoreh Vika, penulis berharap pihak UNP dapat bertindak arif dan menyediakan satu kursi di jurusan Matematika UNP. Saya pikir masih ada waktu untuk mengambil keputusan tersebut. Bila tidak, maka ada baiknya Vika kembali ke cita-cita sejak kecil untuk menjadi dokter. Hal ini agaknya bisa digapai karena melalui media masa penulis membaca adanya kepedulian Walikota Padang Fauzi Bahar untuk membiayai perkuliahan warga kotanya yang berprestasi tinggi tersebut. Sebuah kebijakan yang agaknya pantas ditiru oleh pimpinan pemerintah di level manapun di Sumatera Barat.

Faktor-faktor Penentu Keberbakatan          

Bahwa Vika meraih prestasi sebagai peraih nilai UN tertinggi se-Sumbar adalah tanda bahwa ia cerdas. Bahwa ia punya semangat dan motivasi belajar yang tinggi di tengah kekurangan sarana belajar adalah tanda bahwa ia anak kreatif. Bahwa ia rajin bertanya kepada guru-gurunya adalah tanda ia memiliki rasa keingintahuan yang besar. Tiga tanda ini, kecerdasan, keinginan berprestasi tinggi dan rasa ingin tahu yang besar sebagai ungkapan kreativitas, menurut Josep Renzulli adalah faktor-faktor penentu keberbakatan seseorang (Nasution, 2002). Yang dimaksud dengan orang berbakat dalam bidang tertentu ialah orang yang mampu mengembangkan dirinya sehingga ia memiliki kemampuan yang sangat baik dalam menyelesaikan masalah atau mampu menciptakan sesuatu dalam bidang tersebut. Bahkan di tengah keterbatasan fasilitas, orang-orang berbakat mampu menorehkan prestasi cemerlang.            

Untuk menemukan anak yang berbakat dari suatu lingkungan luas yang sangat beragam, maka Prof. Andi Hakim Nasution (2002) menyarankan bahwa langkah pertama yang harus ditemukan adalah mencari anak-anak yang cerdas. Anak-anak itu dapat ditemukan dengan mudah dari prestasi mereka di sekolah yang cukup tinggi. Karena itu, anak-anak yang meraih juara Olimpiade dalam bidang ilmu, baik untuk tingkat daerah, nasional dan internasional, sesungguhnya adalah anak-anak cerdas. Begitupun anak-anak yang meraih prestasi seperti peringkat satu UN tingkat provinsi, seperti Vika. Kecerdasan seorang anak sebagian ditentukan oleh kecukupan gizi ibunya sewaktu ia dalam kandungan dan ketersediaan pangan dan gizi berimbang pada saat usia pertumbuhannya. Sebagian lagi kecerdasan itu berkembang karena seorang anak mendapatkan orang tua dan lingkungan termasuk guru yang pandai mendidik.

Mendulang mutiara di dalam lumpur          

Anak-anak berbakat itu adalah bagaikan “mutiara di dalam lumpur”. Apa yang diperlukan untuk mendulang mutiara dari dalam lumpur? Jawabannya sangat mudah, kata Prof. Andi Hakim Nasution (2002). Jawabannya adalah diperlukan orang dewasa yang dapat menemukan bakat-bakat, bukan dari ujian saringan masuk, bukan pula hanya dari nilai rapor semata. Yang diperlukan adalah orang yang dapat menilai apakah seorang anak mempunyai nilai yang lebih menonjol dibandingkan teman-temannya.            

Karena itu, orang dewasa yang ingin menemukan anak-anak berbakat harus sadar bahwa anak yang dicarinya itu lebih pandai dari dirinya. Bukan hanya anak-anak berbakat yang harus ditemukan dengan perasaan besar seperti itu. Para pemimpin universitas, lembaga pendidikan, lembaga penelitian pun harus berani memberikan kesempatan kepada orang-orang muda berbakat untuk berkembang untuk menyainginya dalam bidang ilmu, bukan “membunuh” karir calon ilmuwan muda tersebut. Hal ini kerap terjadi pada beberapa ilmuwan muda yang kembali dari menuntut ilmu, baik di dalam negeri maupun dari universitas luar negeri. Ada diantara mereka yang kesulitan mengembangkan diri di tempat kerjanya karena mendapat hambatan untuk maju dari senior-seniornya.            

Memang kebanyakan dari mereka yang berbakat itu sering ingin maju dengan cepat. Pada umumnya ia memiliki keinginan berprestasi dan motivasi yang tinggi, dan itu memang salah satu ciri keberbakatan. Keberbakatan, motivasi yang tinggi dan keinginan mendapatkan pengakuan dari orang lain, datang dalam satu paket dan tidak dapat dipisah-pisahkan. Kalau seorang pimpinan tidak menyukai salah satu ciri ini, misalnya motivasi dan pengakuan, sehingga ia menyisihkan orang berbakat tersebut dengan beragam cara, maka sekaligus ia juga menyisihkan orang yang berbakat tinggi dari lembaga yang dipimpinnya, atau lebih tepat, lembaga yang dikuasainya.

Pendidikan Untuk Semua           

Pendidikan merupakan salah satu cara meningkatkan kualitas SDM yang akhirnya diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Kesempatan mengikuti pendidikan merupakan hak dasar (asasi) yang seharusnya dapat ditempuh oleh setiap warga negara tanpa dibatasi sekat-sekat persyaratan yang berlaku pada pendidikan formal. Pendidikan merupakan hak dasar bagi setiap warga negara, bukan lagi dipandang sebagai suatu keistimewaan yang hanya bisa dinikmati oleh segelintir kelompok elit.             

Semakin terdidik suatu masyarakat semakin tinggi potensi untuk memiliki SDM yang lebih berkualitas. Semakin tinggi kualitas SDM, semakin besar kesempatan untuk memperoleh kesejahteraan yang lebih baik (Jalal, 2000). Kuatnya kaitan antara pendidikan dengan SDM dalam mengukur keberhasilan pembangunan SDM suatu negara diperlihatkan oleh United Nation Development Program (UNDP). Badan dunia ini telah menetapkan pendidikan masyarakat di suatu negara sebagai salah satu indikator penting untuk menentukan peringkat SDM negara tersebut diantara negara-negara di dunia.

            Karena itu, rencana Walikota Padang Fauzi Bahar untuk membiayai Vika melanjutkan pendidikan tinggi kemanapun ia suka merupakan langkah yang sangat tepat. Agaknya, pemerintah dan masyarakat seharusnya mulai memikirkan untuk membiayai anak-anak berbakat yang kadang terpaksa mengubur mimpinya karena alasan ketiadaan dana. Semoga fenomena prestasi Vika Cikita menjadi pelajaran bagi kita semua. Lihatlah di sekitar kita betapa banyak anak-anak muda berbakat yang perlu kita dukung untuk menggapai mimpi-mimpinya.

Kepada  Anda para kaum muda, jangan pernah cengeng menapak hidup ini. Percayalah kesuksesan, -- apapun nama dan bentuknya--, salah satunya ditentukan oleh kerja keras dan kerja cerdas yang Anda lakukan. Semoga Allah meridhoi usaha Anda.

 

Limau Manis, 26 Juni 2007  Dr. a. Rusfidra, S.Pt(Dosen Fakultas Peternakan UNAND, Penerima Beasiswa Unggulan Pascasarjana Ditjen DIKTI Depdiknas S2-S3 tahun 1995-2001) email: This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it : http://rusfidra.multiply.com 

Trackback(0)
Comments (0)add comment

Write comment
You must be logged in to a comment. Please register if you do not have an account yet.

busy
Last Updated ( Thursday, 28 June 2007 )
 
< Prev   Next >


Advertisement

Member Area
Yayasan Palanta Cimbuak
Yayasan Palanta Cimbuak
Dari Awak, Oleh Awak, Untuak Kampuang
Nio berpartisipasi? Silakan klik disiko
Cimbuak Features

Cimbuak Chat


Cimbuak Chat


Free Email


Free Email
Yayasan Cimbuak
Situs Terbaik
Online Sekarang
We have 12 guests and 3 members online
Generated in 2.11792 Seconds