Home
Daftar Anggota
Galleri
Resep
Restoran Minang
Games
Download
Kamus Minang
Chat
Bursa Iklan
Radio Online
Weblink
SPTT Cimbuak
Advertisement
Cimbuak Toolbar
Menu Situs
Berita
Artikel
Prosa
Tokoh Minang
Adat Budaya
Agama
Kolom Khusus
Pariwisata
Berita Keluarga
Giring2 Perak
Berita Yayasan
Pituah

Kok indak nan dihati
Nan tajadi
Cubolah sanang jo
Nan tajadi
Milis Minang
Rantaunet
Surau
Aktivis Minang
Media Padang
PosMetro Padang
Advertisement
Pekan Budaya, Memadukan Konsep Budaya Dan Wisata PDF Print E-mail
Written by Harian Singgalang   
Saturday, 30 June 2007

ImageApa yang menjadi konsep dari pekan budaya Sumbar yang akan digelar ini?
Konsep yang kita pegang adalah revitalisasi budaya dari 19 kabupaten/kota. Dalam iven itu, kita memberikan kesempatan bagi seluruh kabupaten/kota untuk memperkenalkan seni tradisi dan budaya masing-masing. Tidak hanya itu, pada pekan budaya nanti, kita juga memasukkan budaya nusantara lainnya, seperti melayu. Namun, yang jelas kita lebih mengutamakan perkenalan budaya kabupaten/kota yang ada, seperti kesenian tradisi yang dimiliki. Yang pastinya, ini akan menjadi ajang bagi mereka untuk memberikan yang terbaik.
Sasarannya?

Sasarannya yang jelas memperkenalkan seni dan budaya kita. Pertama sekali pada generasi muda dan masyarakat luas. Karena, belum semua yang mengenal budaya yang dimiliki masing-masing daerah. Setelah itu baru buat undangan luar daerah dan wisatawan yang datang.
Dari kegiatan yang katanya menghabiskan dana Rp1,2 miliar ini, tentu ada target jangka pendek maupun jangka panjang yang dibidik?
Ya, kita punya target jangka pendek untuk memperkenalkan lebih dekat seni budaya daerah di Sumatra Barat kepada masyarakat pada segala lapisan.
Sedangkan target jangka panjangnya adalah untuk menjadikan satu alat untuk mengembangkan pariwisata. Karena, antara budaya dan pariwisata hanya berbeda tipis. Bahkan, budaya bisa dijadikan potensi untuk mengembangkan pariwisata.
Dibandingkan dengan tahun lalu, apa perbedaan konsep pekan budaya IX ini?
Dari segi konsep mungkin hampir sama. Tapi, ada beberapa tambahan pada mata acara, seperti randai, pencak silat dan saluang. Tahun lalu, seni tradisi ini tidak dipertontonkan. Perbedaannya lagi, masing-masing daerah mempersiapkan tim masing-masing untuk tampil terbaik. Bukannya bergabung seperti tahun lalu. Dengan demikian, tidak tertutup kemungkinan bagi mereka dengan tampilan terbaik untuk mewakili Sumbar dalam iven-iven tertentu. Perbedaannya lagi, kali ini kita juga memasukkan pameran anggrek dengan melibatkan kelompok-kelompok pemerhati dan pecinta anggrek. Pameran anggrek ini diharapkan bisa menjadi penarik bagi pengunjung sekaligus mengembangkan potensi yang ada.
Dengan rencana dibukanya iven ini langsung oleh Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla, apakah ini akan memberikan keuntungan bagi prospek wisata Sumbar ke depan?
Tentu saja memberikan keuntungan. Yang jelas bisa memberikan image positif bagi Sumbar ke luar. Selain itu, pada hari itu juga dicanangkan Hari Permainan Anak Nusantara dengan melibatkan sekitar 200 anak se Indonesia . Pencanangan Hari Permainan Anak Nusantara ini untuk membudayakan kembali permainan asli tradisi, seperti halnya sepak tekong di Minang. Karena, dengan kondisi kekinian, banyak generasi muda yang sudah tidak mengenal lagi permainan tradisi. Di samping itu, kedatangan Wapres juga dimanfaatkan untuk meluncurkan kereta api wisata. Diharapkan kereta api wisata ini akan terus bergeliat di masa mendatang.
Setelah perhelatan ini selesai, apa langkah konkrit pemerintah Sumatra Barat selanjutnya untuk mengembangkan seni tradisi daerah?
Salah satunya dengan membuat pondok-pondok seni sebanyak 20 buah di Taman Budaya. Pondok-pondok yang saat ini mulai dibangun itu akan didirikan secara permanen bagi 19 kabupaten/kota. Pondok-pondok itu disediakan untuk keperluan kabupaten/kota dan akan tetap terbuka untuk mewadahi ruang berseni mereka.
Pada waktu hampir berdekatan, juga diadakan pekan kesenian di Bali . Bila belajar dari sana, apa perbedaan konsep serta kekurangan pada iven yang sama di Sumbar?
Bali sudah jauh lebih dahulu mengembangkan pariwisata serta memadukan konsep seni budayanya untuk pariwisata. Namun, bagi kita yang penting adalah bagaimana memperkenalkan saja dahulu pada masyarakat. Apalagi, selama beberapa waktu terakhir cukup banyak stakeholder yang mengunjungi Sumbar. Tinggal lagi dari internal kabupaten/kota, baik pemerintah maupun masyarakatnya, apakah sudah siap untuk menyambut wisatawan yang berkunjung? Apalagi, setelah ini akan ada iven internasional lainnya. Yaitunya, festival silat internasional pada bulan Agustus.
Disebutkan tadi bahwa budaya bisa menjadi potensi pariwisata. Contohnya seperti apa?
Seperti halnya ABS SBK ( Adat Basandi Syarak Syarak Basandi Kitabullah ). Bila kita jeli, sebenarnya hal itu bisa dijadikan untuk pengembangan pariwisata. Namun, untuk itu harus disamakan dulu persepsi antara seluruh anggota masyarakat. Saat ini, persoalannya hanyalah perbedaan dalam menterjemahkan ABS SBK tersebut dikaitkan dengan pengembangan wisata. Sehingga, muncul kesan bahwa ABS SBK itu berbenturan dengan pengembangan pariwisata yang profesional.
Lantas, apa upaya untuk menyamakan persepsi itu?
Salah satunya adalah dengan memberikan penyuluhan pada masyarakat di seluruh lapisan. Untuk itu, kita telah membentuk tim penyuluh yang terdiri dari pihak Dinas Pariwisata, tapi juga dari pelaku pariwisata. Penyuluhan terutama diberikan pada masyarakat di daerah destinasi wisata yang telah ditetapkan. Audiens yang diberikan penyuluhan berbeda-beda. Namun, setidaknya mesti dilakukan penyuluhan dua kali setahun untuk orang yang sama. Bila penyuluhan sudah diberikan, maka tidak akan terjadi hal-hal yang memperburuk citra wisata, seperti pemalakan, tarif parkir seenaknya dan lain-lain.
Pemprov Sumbar katanya sudah cukup serius dalam upaya mengembangkan pariwisata ini. Apa bukti keseriusannya?
Salah satu bukti keseriusan yang utama adalah dinaikkannya annggaran pariwisata sekitar 85 persen di tahun 2007 ini. Kita juga mendapatkan anggaran tambahan cukup besar. Untuk pekan budaya saja, Pemprov menganggarkan dana Rp1,2 miliar. Semua itu setara dengan keseriusan pemerintah pusat yang menjadikan Sumbar sebagai satu dari lima daerah unggulan wisata di Indonesia saat ini. Walaupun demikian, anggaran yang banyak tetap bukanlah jaminan untuk pengembangan pariwisata. Yang lebih penting adalah usaha maksimal dari pemerintah dan stakeholder terkait.
Bukti keseriusan lainnya adalah dengan membuat zona-zona pariwisata. Ada tiga zona yang kita bagi, yaitu zona kepulauan (Mentawai), daratan dan pesisir. Masing-masing zona diarahkan untuk mengembangkan potensi yang dimiliki masing-masing. Selain itu, setiap daerah diarahkan untuk mengemas paket-paket wisata khusus daerahnya masing-masing. Seperti dragon boat di Padang, tabuik di Pariaman, paralayang di Agam, Pedati di Bukittinggi dan lain-lain. Kita akan mulai membenahi tanpa memaksakan.
Bagaimana dengan pelaku wisata atau stake holder, seperti pengelola hotel atau travel agen, apakah sudah serius mengelola pariwisata Sumbar?
Mereka pada dasarnya sudah serius. hanya saja, masih dituntut maksimalitas dari upaya yang telah dilakukan.
Bicara tentang pariwisata secara umum, hal apa yang menjadi kelemahan utama pada objek wisata di lapangan?
Yang sering menjadi keluhan adalah tidak adanya toilet yang representatif di objek wisata. Karena itu, Pemprov mendorong Pemerintah Kabupaten/Kota untuk mendirikan toilet yang representatif tersebut. Pemko Bukittinggi menurut rencana akan memulainya di objek wisata Jam Gadang. Begitu pula di Lembah Harau, sudah ada kesediaan dari Pemkonya. Daerah yang lain hendaknya juga turut mengikut.
Daerah Sumbar sering kali terkena gempa. Apakah pasca gempa yang terjadi Maret lalu serta gempa-gempa kecil lainnya mempengaruhi kondisi kepariwisataan Sumbar?
Secara umum, tidak ada masalah pariwisata dikaitkan dengan isu gempa. Kalaupun ada, hanya terjadi pengunduran agenda. Bahkan, tahun ini kita malah menargetkan peningkatan kunjungan wisatawan.
Berapa tingkat kunjungan wisatawan Sumbar saat ini?
Pada tahun 2006, tingkat kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) mencapai 90 ribu. Sementara, kunjungan wisatawan nusantara (wisnu) 4,5 juta. Pada tahun 2007 ini, kita menargetkan tingkat kunjungan wisman meningkat menjadi 115 ribu. Sedangkan wisnu 5 juta orang.
Bisa diartikan bahwa wisnu menjadi target utama bagi Sumbar?
Benar. Karena, minat wisnu cukup tinggi ke Sumbar. Tapi, kita bukannya tidak membidik pasar wisman. Pasar utama luar negeri adalah Malaysia , Singapura dan Australia . Tidak tertutup juga untuk Thailand Selatan. Yang kita bidik sebenarnya bukan cuma warga negara itu saja, tapi lebih utamanya wisatawan yang selama ini datang berkunjung ke sana .

Apakah masih ada rencana untuk membuat slogan-slogan wisata seperti Minangkabau Visit Year seperti yang dilakukan dua tahun sebelumnya?
Tentu saja masih. Akan kita pikirkan lagi bagaimana untuk mem folow up iven-iven wisata yang sudah dilakukan selama ini. Apalagi, tahun depan akan menjadi 100 tahun Buya Hamka. Barangkali hal itu bisa menjadi momen juga untuk membuat iven-iven wisata. ***

 

ttp://www.hariansinggalang.co.id/23juni_mng_pekan.htm

Trackback(0)
Comments (0)add comment

Write comment
You must be logged in to a comment. Please register if you do not have an account yet.

busy
Last Updated ( Monday, 02 July 2007 )
 
Next >


Advertisement

Yayasan Palanta Cimbuak
Yayasan Palanta Cimbuak
Dari Awak, Oleh Awak, Untuak Kampuang
Nio berpartisipasi? Silakan klik disiko
Cimbuak Features

Cimbuak Chat


Cimbuak Chat


Free Email


Free Email
Yayasan Cimbuak
Situs Terbaik
Online Sekarang
We have 29 guests and 9 members online
Generated in 2.16676 Seconds