ImageProfesional Minang

Selain sebagai pedagang, perantau Minang banyak pula yang terjun sebagai profesional kerah putih di perusahaan-perusahaan modal asing, swasta, dan BUMN. Diantara mereka, banyak pula yang sukses meniti karier hingga duduk di puncak perusahaan. Saat ini, pimpinan beberapa BUMN top yang memegang urat nadi perekonomian negara, ditempati oleh putra-putra terbaik Minangkabau. Diantara mereka adalah Emirsyah Sattar yang menjadi CEO Garuda Indonesia, Rinaldi Firmansyah yang duduk sebagai direktur utama Telkom Indonesia, serta Johny Swandi Syam yang menjabat sebagai pimpinan Indosat.


 Perantau Minang yang berkarier di kemiliteran atau menjadi pegawai pemerintah, tak sebanyak yang berprofesi di BUMN ataupun swasta. Profesi birokrat yang biasanya didominasi orang-orang Jawa, tak terlalu menarik minat bagi sebagian besar perantau Minang. Namun begitu, ada pula orang Minang yang berhasil naik hingga ke puncak, menduduki jabatan-jabatan penting di pemerintahan kota. Seperti yang saat ini ditunjukkan oleh Syahrul Effendi (wali kota Jakarta Selatan), Wiliardi Wizard (kapolres Jakarta Selatan), Rycko Amelza Dahniel (kapolres Jakarta Utara), dan Boy Rafli Amar (juru bicara Polda Metro Jaya). Perantau Minang hanya sekali menjadi orang nomor satu DKI, yakni pada tahun 1950 ketika Daan Jahja menjabat sebagai gubernur militer Jakarta.

Selain sebagai pegawai, perantau Minang banyak pula yang berprofesi sebagai dokter. Profesi ini sebenarnya profesi dambaan yang telah lama digeluti banyak perantau Minang, selain sebagai ahli hukum dan ahli keuangan. Sejak dibukanya sekolah dokter pribumi STOVIA pada pertengahan abad ke-19, mulailah berbondong-bondong mahasiswa Minangkabau datang bersekolah ke Jakarta. Cita-cita mereka menjadi angku dotor, diharapkan bisa mengubah citra mereka dan keluarga di tengah-tengah lingkungan adat yang compete. Data yang sangat konservatif menyebutkan, pada periode 1900 – 1914 sekitar 18% lulusan STOVIA merupakan orang-orang Minang. Hal inilah yang menjelaskan mengapa dari dulu hingga sekarang, banyak dokter di Jakarta datang dari kalangan Minangkabau.

 

Di Jakarta, banyak pula perantau Minang yang berprofesi sebagai pendidik pengajar. Bahkan guru-guru asal Minangkabau sangat mencolok dibandingkan dengan guru dari etnis lain, baik dari segi pencapaian maupun jumlah. Mochtar Naim mencatat, bahwa 30% guru SLTP di seluruh Jakarta berasal dari Minangkabau. Pada tahun 1970-an, 20 dari 81 kepala sekolah SLTP merupakan pendidik asal Minangkabau. Dan angka yang lebih besar terlihat pada sekolah-sekolah yang bercorakkan Islam. Seperti misalnya di sekolah Muhammadiyah, yang paling banyak cabangnya di seantero Jakarta, dimana guru asal ranah Minang mencapai angka 70%.

Walaupun menjadi khatib dan ulama merupakan profesi sampingan bagi sebagian besar perantau Minang, namun pekerjaan ini memberikan corak tersendiri di tengah-tengah kehidupan masyarakat ibu kota yang cenderung sekuler. Adat istiadat mereka yang bersendikan Islam, mendorong banyak perantau Minang untuk terlibat dalam kegiatan dakwah. Hal ini terlihat dari daftar yang dikeluarkan pemerintah pada tahun 1970-an, dimana dari 150 khatib di Jakarta, 60% merupakan perantau Minangkabau. Bahkan Buya Hamka, yang selama tiga dekade menjadi ulama panutan masyarakat, memberikan angka di atas itu. Buya memperkirakan hampir 80% khatib di Jakarta merupakan perantau Minang. Di beberapa mesjid besar di Jakarta, seperti mesjid Sunda Kelapa Menteng dan Al-Azhar Kebayoran Baru, kepengurusannya banyak diisi oleh para perantau Minang. Tidak hanya disitu, mereka juga terlibat di dalam kepengurusan organisasi-oraganisasi Islam terutama yang bercorak pembaharuan, seperti Muhammadiyah, Persis, dan HMI.

Persaingan Hidup

Jakarta memang menawarkan segalanya. Namun apa-apa yang ditawarkan itu, tak bisa datang dengan mudah tanpa ada kerja keras dan ketekunan. Di dunia perdagangan, hanya orang-orang Tionghoa-lah yang menjadi pesaing serius pengusaha Minangkabau. Kecuali kota-kota di Sumatera Tengah, di kota-kota manapun di Nusantara ini, dari Medan, Palembang, Bandung, Surabaya, Kuala Lumpur, hingga Jakarta, pengusaha Minang sering kalah bersaing dengan orang-orang Tionghoa. Walaupun dari segi keuletan dan ketangguhan kedua etnis ini tak jauh berbeda. Namun modal besar, semangat untuk re-investasi, serta jaringan yang kuat, menjadikan pengusaha Tionghoa jauh berada di depan.

Dalam beberapa kasus di Jakarta, persaingan ini nampak terbuka. Seperti yang pernah terjadi di Rawamangun, dimana perkumpulan pengusaha percetakan dan foto kopi asal Minangkabau, mengkartel harga untuk mencegah masuknya orang-orang Tionghoa berdagang di wilayah itu. Dalam kasus yang lain, kongsi dagang Minang di Blok M terlibat dalam tinggi meninggikan harga penawaran toko, untuk mencegah dominasi pedagang Tionghoa. Persaingan terbuka dengan pedagang Tionghoa telah berlangsung sejak lama. Pada tahun 1930-an, pengusaha kakak-beradik Djohor Soetan Soelaiman dan Djohan Soetan Perpatih, melakukan aksi dengan menurunkan harga dagangannya yang berdampak pada toko-toko Tionghoa di Pasar Baru, Senen, dan Kramat. Prinsip dagang mereka : “harga murah, penjualan berputar, rakyat tertolong”. Dari beberapa kasus itu, memang pengusaha Tionghoa menjadi pihak yang kalah. Namun dalam kasus lain yang cukup berbahaya, pengusaha Minang mengalami kekalahan yang menyakitkan. Kasus yang cukup hangat ialah terjadinya kebakaran di beberapa pasar tradisional yang diduga merupakan kongkalikong antara pebisnis-pebisnis Tionghoa dengan pemerintah kota. ”Pembakaran” ini diduga bertujuan untuk menyingkirkan pedagang Minangkabau yang telah eksis dan mendominasi perdagangan selama bertahun-tahun.

Dalam kasus kebakaran di Pasar Tanah Abang, majalah Tempo berpendapat adanya permainan antara pengusaha Tionghoa, Tommy Winata dengan Pemda DKI. Terbakarnya Tanah Abang, menurut beberapa pihak merupakan suatu faktor kesengajaan. Hal ini bertujuan untuk memberikan peluang kepada pedagang-pedagang grosir Tionghoa, untuk ikut mencicipi manisnya gula perkulakan Tanah Abang yang selama ini secara eksklusif hanya dinikmati pedagang-pedagang Minangkabau. Dengan adanya pembakaran itu, praktis orang Minang yang sebelumnya menguasai 75% toko-toko di Tanah Abang, susut hingga ke angka 50% – 60%.

Selain di Tanah Abang, dominasi Minangkabau terlihat pula di Pasar Senen, Pasar Rumput, Jatinegara, Blok M, Mayestik, dan Bendungan Hilir. Di Pasar Blok M yang kesohor itu, 60% toko diisi oleh pedagang-pedagang Minangkabau. Angka-angka yang tak jauh berbeda, berlaku pula pada Pasar Senen, Pasar Rumput, Jatinegara, Mayestik, dan Bendungan Hilir. Di Pasar Glodok dan Mangga Dua, jarang dijumpai pedagang-pedagang Minangkabau membuka usahanya. Selain kedua pusat perbelanjaan itu menjadi domain para pedagang Tionghoa, spesifikasi perdagangan di kedua pasar itu tak cocok dengan jenis usaha orang Minang.

Sebagian pihak berpendapat, dibangunnya mal-mal dan trade centre baru, akan mematikan usaha tradisional pribumi. Namun nyatanya hal ini tak berlaku bagi pedagang tradisional Minangkabau, yang justru melihat peluang ini sebagai kesempatan untuk meluaskan usahanya. Di ITC Cempaka Mas, pusat perbelanjaan besar di Jakarta Pusat, orang-orang Minang bersaing keras dengan pedagang Tionghoa. Toko-toko Minang dan Tionghoa, selang-seling mengisi pusat perbelanjaan seluas 250.000 m2 itu, dan di tengah koridor nampak beberapa booth pedagang kecil Minangkabau bersaing berebut pembeli dengan pedagang-pedagang Jawa dan Batak. Kondisi serupa terjadi pula di Pusat Grosir Cililitan, ITC Kuningan, dan Mal Ambassador, dimana persaingan bisnis terjadi diantara para pedagang Minangkabau dan Tionghoa.

Walaupun kerasnya hidup di Jakarta, tidak pernah terdengar adanya perkelahian yang dilakukan oleh para perantau Minang. Hal ini dikarenakan sedikitnya orang Minang yang hidup di dunia hitam, seperti menjadi preman, tukang pukul, pembunuh bayaran, atau debt collector. Kehidupan jalanan yang keras, biasanya sering dialami oleh supir-supir atau pencopet Minang. Pencopet atau penyeluk saku asal Minangkabau hanya sayup-sayup terdengar. Selain jumlahnya yang sedikit, lihainya mereka beroperasi hingga hampir-hampir tak pernah tertangkap tangan. Kalaupun operasi dan gerak-geriknya terdeteksi, maka dengan cepat mereka akan berkamuflase menjadi individu lain. Penyamaran yang mudah biasanya dengan cara berpura-pura menjadi pekerja kantoran, dan mengubah logat bicara mereka seperti logat orang Batak, yang sering diasosiasikan orang sebagai penyeluk saku.

Yang terlupakan namun hidup dalam relung-relung sanubari dan pikiran para perantau Minang adalah persaingan dalam memproduksi kata-kata. Setiap perantau Minang, entah apapun profesinya, baik sebagai mahasiswa, akademisi, pedagang, sastrawan, wartawan, ataupun politisi, selalu berebut untuk berbicara. Dimanapun gelanggangnya baik itu pasar, ruang seminar, ataupun media massa, selalu saja ada orang Minang yang bermain dengan kata-kata. Coba tengoklah pasar-pasar tradisional di seantero Jakarta, dimana-mana hanya suara pedagang Minang saja yang terdengar. Sorak kegaduhan mereka, seakan-akan kita seperti berada di pasar-pasar Sumatra Barat. Berada di Pasar Tanah Abang atau Blok M, tak ubahnya seperti di Pasar Di Ateh Bukittinggi atau Pasar Raya Padang. Atau tengoklah media-media massa nasional terbitan ibu kota, setiap harinya pasti ada saja penulis-penulis Minang yang menawarkan ide-idenya. Atau hadirlah dimana-mana seminar diadakan, apaupun itu topik bahasannya, selalu saja ada ahli-ahli dan akademisi Minang yang menjadi pembicara. Persaingan berkata-kata bagi sebagian besar perantau Minang, menjadi suatu kebanggaan dan prestise. Mereka sangat mempercayai daya magis dan kekuatan kata-kata untuk memenangkan pertarungan hidup, utamanya di Jakarta yang penuh persaingan.

Pemukiman

Di seluruh Nusantara, etnis Minang dikenal sebagai perantau ulung. Namun begitu tak ada satupun kampung atau wilayah pemukiman di kota-kota besar Nusantara yang mengambil nama dari Minangkabau. Pola pemukiman orang Minang yang menyebar sesuai profesi dan pekerjaan mereka, serta tak sukanya orang Minangkabau hidup mengelompok berdasarkan etnis, menjadi alasan tak ada satupun Kampung Minangkabau atau Kampung Padang di Jakarta. Walaupun terdapat Jalan Minangkabau (pada jaman Belanda : Minangkabau Boulevard) di kawasan Manggarai, namun sedikit ditemui perantau Minang bermukim.

Perantau Minang yang menjadi pekerja kerah putih, banyak bermukim di kompleks-kompleks perumahan. Beberapa orang Minang yang duduk sebagai elit negara, baik itu sebagai menteri ataupun diplomat, banyak yang menempati pemukiman-pemukiman elit Jakarta. Dalam suatu penelitian yang dilakukan oleh orang Belanda, terungkap bahwa perantau Minang menjadi salah satu pemukim terbesar di daerah elit Menteng. Peneliti asing itu mencatat bahwa 32% dari penduduk kota taman Menteng, merupakan orang-orang Sumatra yang hampir semuanya berasal dari Minangkabau. Di samping Menteng, wilayah elit Kebayoran Baru juga banyak ditempati orang-orang Minang. Namun berbeda dari wilayah Menteng yang dimukimi oleh banyak pejabat negara, maka wilayah Kebayoran Baru menjadi pilihan banyak pengusaha Minangkabau yang telah mapan.

Mereka yang berprofesi sebagai pedagang, biasanya tinggal tidak jauh dari toko-toko mereka. Namun jarang diantara mereka yang tinggal di ruko-ruko seperti umumnya pedagang Tionghoa. Beberapa wilayah di Jakarta, seperti wilayah pecinan di Glodok, Pluit, Sunter, atau Kelapa Gading, jarang dijumpai pemukim asal Minangkabau. Selain itu pula, sangat sedikit ditemukan orang Minang yang tinggal di perkampungan kumuh padat penduduk di tengah-tengah kota, ataupun perkampungan di pinggiran ibu kota. Wilayah-wilayah ini biasanya banyak ditempati oleh pendatang asal Jawa atau orang-orang Betawi yang menjadi penduduk asli Jakarta.

 

 

comments powered by Disqus
Berita Cimbuak
Cimbuak - Safemode : ON
  • By Administrator
  • 12/12/2013

Dunsanak sakalian, karena hal teknis kami tapaso melakukan update website cimbuak ka mesin nan baru iko. Untuk samantaro indak sado fungsi berjalan dengan baik, namun seiring berjalannyo waktu kami...

Berita Cimbuak
Pengumunan untuk Pemesan Jaket/Kaos Cimbuak
  • By Urang Dapua
  • 07/08/2013

Assalamu'alaikum Wr. Wb.Bagi dunsanak yang pernah memesan Jaket/kaos Cimbuak, dan telah membayar uang muka pemesanan, dimohon untuk menghubungi pengurus Cimbuak, untuk pengembalian uang pemesanan dengan...

Berita Rantau
Whulandary Putri Indonesia 2013
  • By Admin
  • 02/06/2013

Terpilihnya Wulandary Herman sebagai Putri Indonesia 2013 tentunya punya konsekwensi harus mengikuti Miss Universe, sebagaimana kita tahu dalam ajang Miss Universe ada session memakai Bikini,...